Semangat Kerja Korea

July 21, 2008

Baru-baru ini Kompas menurunkan artikel tentang Korea. Sebuah anjuran agar kita belajar dari Korea Selatan. Sebeuah negera agraris maju pesast dalam bidang industri. Apa istimewanya orang Korea itu sampai kita harus belajar dari mereka.

Saya bekerja sama dengan orang Korea cukup lama, bahkan terbilang lama. Dari berteman, berbisnis dan saya bekerja bersama. Orang Korea maunya segala sesuatu cepat selesai. Kalau ada tugas, tugas itu harus secepatnya selesai. Apakah besaok masih ada waktu, yang penting selama bisa diselesaikan hari ini, maka harus diselesaikan. Semua orang Korea, baik pemilik atau pimpinan perusahaan tidak segan turun ke lapangan. Mereka siap bersusah-susah mengangkat tangga, mengangkat barang atau pekerjaan yang mungkin dianggap kasar. Dia sigap melakukan itu semua didepan anak buahnya.

Semangat kerja sangat tinggi. Dalam menghadapi atasan mereka selalu tunduk. Pada setiap rapat koordinasi pagi hari, para manager diam, bicara bila diminta, mencatat point-point penting. Seorang boss sepertinya tidak pernah salah.

Bos sadar bisa salah. Bos sadar bahwa anak buah kurang terbuka. bagaimana caranya untuk mengetahuinya. Biasas semua staffnya diajak makan malam.  Soju adalah minuman korea yang selalu menemani mereka makan bersama. Soju ini kata orang air kata-kata ( tuak Flores). Bos menuangkan soju ke anak buah dan sebaliknya anak buah menuangkanya ke sloki bos. Mereka saling melayani dan membawa masing-masing  ke alam lupa susah dan lelah. Setelah agak terpengaruh minuman soju, anak buah bisa  santai. pada saat itu anak buah bisa angkat bicara setengah sadar dan bisa memeahi bos. Hal ini diterima bos. Dan besoknya mereka kerja sama lagi.


Satu Jari Membuat Sempoyongan

July 17, 2008

Jari adalah bahagian tangan manusia yang berfungsi untuk memegang. Satu jari tidak cukup kuat untuk melakukan tugas dengan sempurna. Lima jari akan menjadi kuat bila berssamai melakukan tugas. Barang berat bisa dipegang atau pun diangkat. Ini yang orang masa kini omong tentang Synergy. Energy menjadi lebih besar bila dilakukan dalam kebersamaan.

Satu tangan dengan lima jari menggenggam dan mengangkat secara bersama akan menghasilkan kekuatan ekstra. Tetapi jangan bilang lima jari sama teman-teman saya dari Kawanua yang lagi minta minum tuak. Mereka menyebut jari sebagai takaran minuman keras dalam cangkir atau gelas. Satu jari artinya jari telenjuk dilingkar rata pada dasar gelas, ketebelan jari tangan dijadikan takaran banyaknya minuman dalam gelas. Mereka sangat sosial dalam minum arak bersama. Minuman dituang dalam gelas dengan takaran satu jari. Bila minuman terbatas mereka akan mengatakan satu jari tipis-tipis saja. Menenggak minuman dengan takaran satu jari sangat menghayutkan peminum. Bila sudah minum dengan takaran satu jari berkali-kali secara ukumulasi bisa satu gelas penuh. Minuman orang Kawanua yang keras kalau segelas bisa memabukkan.

Satu jari bisa langsung membuat sempoyongan. BIla sudah kagak lupa dan persedian minuman tradisional cukup, maka mereka menyebut satu jari berarti setinggi satu jari telunjuk. Ini berarti segelas penuh. Kalau sudah beberapa kali satu jari telunjuk sering membuat mereka berubah. Sang peminum bisa mengakat kursi berdansa serasa memeluk nona.


Iringan Becak Menuju KPU

July 14, 2008

Poppy Susanti Dharsono perancang busana dan pengusaha itu bukan main-main mau jadi wakil rakyat. Pada Jumat 11 Juli 2008 dia juga menggiring rakyat berbecak ria menuju KPU dari videotron Jl. Pahlawan, Semarang menuju kantor Komisi Pemilihan Umum Jateng, demikian Kompas mencatat dalam kolom Nama & Peristiwa Senin 14 Juli 2008.

Apakah betul dia merakyat atau sekedar cari sensasi? Tetapi kalau benar dia ingin merakyat dan bekerja untuk rakyat maka kita tunggu hasil ucapannya:” saya ingin memperbaiki taraf hidup msyarakat, khususnya di Jawa Tengah. Pengalaman saya selama 30 tahun di dunia bisnis sudah cukup.Saya ingin mengabdi kepada masyarakat lewat jalur politik.”

Akhir-akhir ini kita lihat kantor DPR jadi sarang koruptor, maling teriak maling. Ternyata banyak anggota dewan terhormat itu bukan mau mengabdi masyarakat, tetapi mau memanfaatkan masyarakat untuk mempertebal kantongnya. Mereka rajin hadir sidang untuk envelop. Mereka bersidang untuk ngaso di kursi nan empuk. Begitu rapat selesai mereka terjaga dan membawa uang di tangan mereka baku dapat dan baku rapat entah dimana. Ibu Poppy Dharsono kita tunggu sepak terjangnya.


Manusia Berskop

July 11, 2008

Setiap sore atau siang bila melewati jembatan antara taman bunga dan Junction Cibubur selalu ada sejumlah lelaki duduk di trotoar. Mereka mempunyai sekop yang mengkilat dan bersih. Saya belum tahu mereka itu tinggal dimana. Tetapi bila ada mobil truck lewat mereka segera ingin mendekat. Sampai malam mereka duduk di jembatan itu. Mereka mengharapkan ada mobil tanah atau pasir lewat dan mereka diperkenankan untuk ikut menurunkan muatan.

Ternyata di negeri ini khusus di Jakarta yang individualistis ini masih ada orang baik. Karena itu tidak jarang kita melihat ada yang membagi nasi kepada manusia bersekop ini. Teristimewa pada hari puasa mereka menikmati kebaikan para dermawan. Saya yakin mereka abutuhkan bantuan ini. Lalu saya ingat akan sebuah restauran Korea di Kelapa Gading yang salah satu hari dalam seminggu mereka menyiapkan ratusan nasi bungkus untuk dibagikan kepada orang jalanan. Siapakah yang menggerakkan hati mereka. Saya yakin itulah cara Tuhan bermurah hati kepada mereka yang berkekurangan.


Nagekeo di PILKADA

July 9, 2008

Pilkada kata paling populer di Nusantara. Kata Pilkada mungkin akan setenar kata tilang,sebuah surat yang diberikan kepada pelanggar aturan lalu lintas. Tilang kemudian menjadi kata kerja. Tetapi lebih biasa disebut kena tilang atau ditilang polisi. Orang sampai lupa bahwa tidak ada kata tilang. Tilang adalah singkatan dari Bukti Pelanggaran Lalu Lintas. Demikian Pilkada kelak orang lupa tetapi orang langsung memahami arti kata bukan arti singkatan.

Sebagai orang Nagekeo saya ingin menengok kampung leluhurku. Masa saya pernah melongok ka kolot, Cibeo di Banten. Saya pernah dibuat terheran akan penataan kampung dan kearifan masyarakat Badui. Membuang air kecil saja ada aturan. jangan mengencingi aliran air sungai untuk air minum. Sampai negara menghormati mereka. Saya pernah berkelana sendiri dan mengisi buku tamu di digerbang masuk Badui. Semalam bersama orang Badui sambil menikmati gamelan sunda pengiring tidurku. Ketika saya sadar terasa bumi hening terasa berhenti berputar karena saya berada di pusat jagat Kanekes. Saya sempat sehari mengalami hidup bersama orang Badui dan makan sekeluarga dari sebuah piring besar.

Saya juga musti melongok kakolot di Keo. Kalau ke Badui saya butuh waktu satu hari dengan kendaraan darat, maka kalau ke Keo saya butuh satu hari dengan menumpang burung baja disambung sewa mobil seharga Rp.500.000,- Mahal luar biasa. Ini bukan di luar negeri. Tetapi ini di negeri dan kampungku sendiri. Jangan heran saya harus hormat pada orang Jawa yang setiap lebaran pulang mudik, tetapi kalau saya pikir-pikir dulu. Hormat pada orang tua pada hari raya merupakan hukum terakhir bagi orang Keo karena yang pertama adalah doku.

Saya ingin membicarakan tentang Pilkada Nagekeo karena ada seorang pengunjung blog ini yang menanggapi tulisan saya tentang Nagekeo Memilih Bupati. Sekarang orang kampung di desa-desa semua kecamatan di kabupaten paling anyar Nagekeo sering didatangi tamu. Orang Nagekeo dengan wajah dan berpakain bersih. Mereka adalah calon-calon pemimpin kabupaten baru ini. Saya kira orang-orang ini untuk sekedar membuang air kecil tidak tahu dimana yang terbaik. Pada hal kalau orang laki buang air kecil bisa dibalik pohon kelapa atau pohon asam atau kemiri, yang penting knalpotnya terlindung dari pandangan mata. Kita bicara tentang calon bupati yang laki, karena masih belum ada wacana calaon bupat wanita. Para tamu ini yang katanya mau jadi bagian dari masyarakat tidak tahu untuk urusan yang paling kecil ini. Dan mereka ini bakal memimpin wilayah dengan sebahagian masyarakat yang berhajat kecil besar di luar rumah dibalik pohon atau batu besar. Dari sudut ini saya rasa para calon bupati Nagekeo yang tiba-tiba muncul ini patut diragukan.

Baru-baru ini kita dan warga dunia menikmati hiburan bola sepak  piala Euro. Ternyata para pemain umumnya bermain di negeri asing. Mereka dimatangkan dinegeri orang. Hanya musti diakui bahwa mereka tidak begitu saja menjadi besar di negeri orang. Mereka adalah orang-orang yang dilirik setelah mereka sukses di negeri sendiri. Bagaimana dengan calon bupati Nagekeo. Mereka bisa kita lihat sebagai para pemain bola sepak ini. Mereka belajar dan hidup di daerah orang. Tetapi mereka murni membangun pengalaman dan hidup di daerah lain. Ada beda karakter dan budaya. Kini mereka berlomba begitu ada kesempatan menjadi orang nomor satu di Nagekeo. Perlu dipertanyakan apakah karena mereka telah sukses dan ingin mengabdi serta berkontribusi bagi tanah leluhurnya? Atau ini kesempatan untuk meraih sukses peribadi dari segi finansial di daerah sendiri? Kalau yang terakhir ini terjawab maka Nagekeo sesungguhnya dipimpin oleh para oportunis dan pada saat nanti mereka kembali ke rumah dengan menjarah kas daerah. Ini yang harus diwaspadai.

Siapa jadi bupati. Yang pertama hindarilah orang yang sungguh oportunis. Mereka yang pernah menentang berdirinya Nagekeo demi peluang lain dalam kebersamaan Ngada. Kedua orang yang harus dihindari adalah mereka yang telah menikmati hdiup didaerah lain dan hanya ingin mempertebal pundi pribadi kemudian kembali tenang di rumah kediaman di daerah lain.  Cari dan pilihlah yang mau mengabdi untuk masyarakat Nagekeo. Lalu siapakah dia???


Rumah Apung Di Cirata

July 8, 2008

Hari Senin kemarin, saya bersama isteri dan sejumlah teman mengunjungi waduk Cirata. Dari Jakarta melalui Tol Cipularang. Tol Cipularang sungguh mempersingkat waktu tempuh Jakarta Bandung. Tetapi sebagai sebuah tol, Cipularang sungguh berbahaya. Ada bagian yang bergelombang. Pada pinggir jalan tidak ada pepohohan yang memikat perhatian sekedar menjagakan mata para pengemudi. Pengemudi hanya konsentrasi pada kecepatan atau menurunkannya. Jalan tol harus ditata agar tidak membuat pengemudi terlena. Kecelakaan selalu mengintai. Kami berada di jalan itu pada pagi hari. Tetapi saya tidak bisa membayangkan bagaimana melewati jalan itu pada malam hari. Tidak kelihatan tiang lampu penerangan. Bisa saja kita dihadang para penodong pada malam hari. Bagaimana kalau ada kerusakan kendaraan ditempat teramat gelap itu?

Cirata pada hari Senin sangat sepi. Kami memarkir kendaraan tidak jauh dari bibir waduk. Di pinggir sebelah kanan ada tertulis tanda Parkir. Disana ada pengakalan perahu-perahu kecil yang biasa digunakan untuk disewakan. Kami menggunakan sebuah perahu kecil milik teman kami menuju tempat budidaya ikan di tengah kedalaman waduk. Dikejauhan ada banyak pondok-pondok kecil diperuntukan bagi penunggu yang bertugas menjaga dan memberi makan pada ikan-ikan. Ditengah waduk, rombongan kami menikmati santap siang ikan bakar yang barusan diserok dari jaring apung.

Sejauh mata memandang hanya pondokan dan kotak-kotak semacam kapling berisi jaring apung. Bisa kelihatan dengan jelas orang sibuk memberikan makan ikan-ikan. Ketika kami juga coba memberikan makanan ke ikan-ikan dalam jaring apung ada pengalaman yang sensasional. Tetapi saya berbisik pada teman saya, apakah kita masih bisa menikmati rasa seperti itu beberapa hari ditinggal sepi ditengah waduk. Lain orang lain pendapat. Saya dan teman menggelengkan kepala, lebih ingin cepat kembali kedarat. Lebih enak menikmati soto rusuk dan buntut sapi bakar di warung pak Haji di sebuah pompa bensin dalam perjalanan menuju Cirata.


Tergiur E-Book

July 4, 2008

Sebagai seorang yang haus akan kesuksesan, saya berusaha belajar dari orang yang mengaku sukses. Mereka menjual e-book. Saya sangat bersemangat membaca dan bahkan membuat catatan. Harapan saya adalah untuk dapt memetik buah pikiran yang praktis untuk kehidupan saya. Judul-judul e-book ternyata sangat menarik. Seolah dengan membaca buku itu kita memiliki sejumlah pengetahuan dan ketrampilan untuk maju.

Betulkah itu semua? Saya mengalami sedikit kekecewaan, karena judul-judul menarik tidak memiliki banyak bobot untuk dipetik.  Ternyata biasa-biasa saja. Buku mereka ternyata tidak punya referensi yang cukup. Isi tulisan mereka begitu enteng dan tidak berbobot. Tidak banyak yang dapat dipetik disana.  Kemasan tidak mengambarkan isi. Saya sudah tergiur dan membelinya. Dan kalau saya boleh berpromosi, maka saya katakan hati-hati membeli e-book.


Merayakan Syukur

July 4, 2008

Tadi malam saya berserta banyak tetangga diundang oleh satu keluarga. Keluarga ini mempunyai dua anak lelaki. Satu baru lulus SD akan masuk SMP dan kakaknya lulus SMP dan akan masuk SMU. Keluarga ini menyiapkan makanan khusus dengan menu ikan bebek. Sambal dan lalapan yang sesuai dengan menu utama. Dalam undangan ditulis perayaan syukur atas keberhasilan setudi kedua anak itu.

Lulusan SD dan SMP bagi kebanyakan keluarga sesuatu yang biasa saja. Tetapi keluarga ini merasa perlu bersyukur atas apa yang dicapainya. Ketika saya menanyakan kedua anaknya, mereka belum mendapat kepastian diterima di sekolah lanjutan yang mana.  Dalam tahapan ini pun keluarga sudah merasa perlu menghadirkan Tuhan menjadi bahagian dari keluarga. Karena sadar bahwa semuanya ada dalam penyelenggaraan Tuhan mereka terdorong untuk mengucapkan syukur itu.

Banyak peristiwa-peristiwa kecil maupun besar lewat dalam perjalanan hidup kita. Kita terkadang menganggap sebagai sesuatu yang biasa. Dan terlalu biasa sampai membuat kita lupa bersyukur. Keluarga ini menyadarkan saya bahwa kita perlu selalu mengucapkan terima kasih tanpa basa basi kepada Allah yang menyelenggarakan yang terbaik bagi kita. Syukur dan terus bersyukur.


Gado Gado Bumbu Beling

July 2, 2008

Hari ini saya pergi ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan di Mampang. Area parkir sangat sempit. Tidak bisa memasukkan mobil ke dalam halaman parkir gedung. Saya kemudian memarkir kendaraan di gedung lain sebelah kanan. Ketika mamasuki area parkir saya ditanya keperluannya. Saya katakan ada keperluan dalam gedung itu. Saya kemudian bisa memarkir diarea parkir. Untuk meyakinkan penjaga saya memasuki gedung itu. Disana saya menuju kamar kecil. Setelah menyelesaikan urusan kecil itu, saya keluar menuju kantor imigrasi.

Di samping kantor imigrasi ada banyak warung makan sederhana. Saya memasan gado-gado. Menikmati gado-gado yang enak rasanya itu saya dikagetkan oleh beberapa benda keras. Dalam kunyahan gado-gado saya ada bebeapa pecahan beling berwarna putih. Saya begitu cemas dan menyampaikan pada penjual gado-gado. Dia minta maaf untuk itu. Ternyata kalau saja saya tidak awas mungkin usus saya harus bekerja ekstra sampai untuk mencernakan pecahan kaca. Dan masih ada urutan cerita susulan berbiaya tidak seimbang gado-gado berbumbu beling yang saya bayar Rp. 9.000,- Itulah makanan rakyat.


Final Euro Cup

June 30, 2008

Beberapa minggu kita dihibur dengan sajian tontonan sepak bola modern dari belahan bumi Eropa. Jalan menuju final dan kejuaraan ibarat menikmati panrorama indah dengan banyak kembang sepanjang jalan menuju puncak. Ada banyak penampilan pemain yang cemerlang. Adu strategi, kecepatan dan ketahanan.

Menonton final piala euro antara Panser Jerman  yang selalu lambat panas dan Matador Spanyol energik dan dinamis, ternyata tidak mengesankan. Panser Jerman seakan tidak menampilkan permainan para bintang. Mereka melakukan banyak kesalahan dalam mengirim bola. Sangat tidak menyenangkan dan membosankan. Pemainan Jerman terkesan kaku dan tidak ngotot sampai menit terakhir. Sebuah tontonan anti klimaks yang menjemukan.