Posted by: atakeo | July 22, 2009

TERORIST JUGA KARYAWAN

Mengenaskan menyaksikan nasib korban bom yang meledakkan dua hotel di kawasan busines nomor satu di negeri ini. Penjagaan pasti  sangat ketat di kedua hotel ini. Hotel Mariott pasti punya pengalaman pahit dengan ledakan bom. Bom pernah sekali meluluh lantakan hotel ranting Amerika ini.

Melihat semua penjagaan yang begitu ketat, siapa sangka pelaku bom bahkan menginap dalam hotel yang ingin diledakkan. Pertanyaan demi pertanyaan muncul bagaimana mungkin pengawas hotel begitu mudah meloloskan barang bawaan kedalam hotel.
Tetangga dekat kami salah satu karyawati hotel Mariott yang lolos dari maut.

Dia seharusnya berada pada titik ledakan, andaikan saja dia tidak diminta untuk bertugas sore. Pada hal dia seharusnya berutugas pagi. Demikian juga suaminya yang berada di hotel Ritz -Carlton. Keluarga ini langsung merayakan syukur dengan mengundang warga dalam sebuah doa syukur menurut iman Katolik. Ketika turut dalam acara tersebut saya mengatakan bahwa pasti ada orang dalam. Paling tidak ada seorang petugas keamanan yang mengenal pelaku, yang adalah tamu hotel. Dengan demikian segala sesuatu dipermudah. Cukup say halo.. bisa masuk tanpa periksa tetek bengek. Bisa saja ada yang didekati secara baik dan mendapat sedikit imbal sehingga seorang bisa lalu lalang dengan tanpa kontrol.Orang tersebut bakal diam setelah menyaksikan ledakan dahsyat yang mengerikan dan membunuh itu.

Prasangka ini terbukti ternyata salah satu pelaku adalah seorang yang pernah bekerja di hotel terjadinya ledakan. Sungguh mengerikan bila yang menjadi terorist adalah orang yang paling mengetahui jeroan obyek ledakan. Peristiwa ledakan bom dan pelakunya mengajarkan kepada kita semua. Kita perlu waspada bahwa pelaku kejahatan sering berasal dari orang yang paling tahu keadaan kita, Mereka bisa jadi karyawan kita.

Posted by: atakeo | July 21, 2009

SUAMIKU ORANG BAIK……

Jeritan isteri  Victor Mokodompis, korban ledakan bom JW Marriott mewakili jeritan anak bangsa. Sedih memilukan. Tidak ada yang membenarkan tindakan ini. Saya yakin pelaku teror pun tidak berkenan kalau ini terjadi pada keluarga dekatnya. Terkutut sangat…..

Posted by: atakeo | July 19, 2009

BOM MENGGUNCANG MENGUNDANG SEJUTA TANYA

Bom  meledak di Hotel J.W. Marriott dan Ritz-Carlton di kawasan elit Mega Kuningan Jakarta pada 17/7/2009 mengingatkan kita akan berbagai aksi kekerasan di negeri subur dan murah  meriah senyum ramah ini. Kalau saja tidak segera meninggalkan hotel untuk berlatih maka pasti kita kehilangan pemain terbaik di negeri ini. Mereka itu adalah bintang-bintang pemain sepak bola Indonesia. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi MU, klub yang baru saja menjual pemain topnya seharga lebih dari satu triliyun rupiah. Real Madrid merasa harga selangit itu masih jauh lebih rendah dari tingginya  langit penghasilan kelak. Ada keyakinan diatas langit masih ada langit. 

Orang nomor satu bangsa Indonesia SBY  langsung menuding. SBY sang presiden menyingkap aslinya.Beliau kebakaran jenggot dan marah besar lalu mengaitkan segalanya dengan PILPRES. Tanpa mengomentari orang pintar, yang jelas  kita semua patut menyesalkan adanya kegiatan terorist. Mengerikan dan kejam. Kita berdukacita.  Dunia berduka karena ada yang direnggut jiwanya. Indonesia kecewa tidak jadi menjamu MU. Gambaran dunia tentang negeri damai, tempat panorama indah untuk berwisata dengan sejuta ramah menjamu wisatawan lenyap disambar bom.

Peristiwa keji ulah terorist mengundang tanya. Pasti ada yang heran mengapa bisa terjadi di hotel dengan keamanan tinggi. Melihat segala peralatan rakitan bom, mengherankan bahwa tak ada yang tahu. Mengaitkan aksi teror dengan ideologi, boleh jadi ada kerja sama antara sekuriti dengan tamu hotel peneror. Masa tak ada yang tahu seorang dengan tas bisa masuk tanpa periksa. Lalu dari mana orang itu datang. Kalau saja ini berasal dari kamar hotel, bagaimana petugas keamanan tidak pernah mememeriksa ketika seorang masuk hotel. Sudahlah itu urusan petugas kepolisian. Kita percaya polisi Indonesia tidak hanya jago menyemprit di jalan untuk menahan pengendara sepeda motor dan mobil angkot. Memang itu jagonya, karena itu juga cara polisi menutupi biaya bensin dan uang rokok. Kita tunggu polisi Indonesia yang berkwalitas. Mereka tidak akan mengecewakan. Itu so pasti.

Posted by: atakeo | June 14, 2009

OMNI INTERNATIONAL DAN KEGAGALAN ADVOKASI

Omni International sebuah nama besar untuk sebuah rumah sakit baru lahir di sebuah perkampungan modern di wilayah Bumi Serpong Damai. Siapa yang mengawali sulutan api, yang kian hari terus membara itu? Dan siapakah yang pertama tidak sabar ketika jenggotnya kepanasan? Kasus Prita seorang wanita pekerja dan ibu rumah tangga, yang baru berkenalan dengan dunia maya telah meluluh lantakan kebesaran nama OMNI (Semua) INTTERNATIONAL (Mendunia). Direksi rumah sakit Omni International benar tidak mampu meredam api yang terlanjut membesar.

Semua media publikasi membidik sensasi Prita. Seorang perempuan berjilbab sahaja telah membuka busuk dibalik kebesaran bukan karena kesalahan Prita. Kesalahan saya kira terletak pada sisi manusia yang merasa luar biasa  bernaung dibawah keteduhan dan kenyaman payung bernama besar OMNI INTERNATIONAL. Publikasi pada dasarnya perlu. Seorang pesohor atau pejabat terutama setingkat menteri akan konyol mati tanpa publikasi. Mereka membutuhkan tempat pemasaran opini. Pedang bermata dua dari publikasi meminta kewaspadaan ekstra bagi yang ingin menggunakannya. Pedang pers memang lebih tajam dari senjata mana saja. Dia bisa memotong tetapi bisa melukai yang menggunakannya, bahkan membunuh diri.

Omni International yang diwakili oleh kuasa hukumnya nampak pada awal mau menunjukkan mereka orang yang memahami hukum. Mereka hanya ingin memperlihatkan kepandaiannya saja. Mereka lupa bahwa masalah Prita, seorang pasien membutuhkan penyelesaian dengan sentuhan hati kamnusiaan. Pada saat orang hanya mengandalkan otak semata, hati terkadang bisu membatu. Inilah awal malapetaka bagi sebuah masalah. Kalau saja pihak rumah sakit, dokter, pimpinan rumah sakit melalui kuasa hukumnya tidak menunjukkan keakuannya persoalan Prita menjadi sederhana. Prita sebenarnya hanya ingin didengar. Mengapa direksi rumah sakit tidak menjadi pendengar yang baik untuk mengoreksi dirinya. Pendengar yang baik adalah seorang yang sabar, menunggu kapan perlu bicara dan berucap seperlunya.

Kini kasus Prita terus saja mencoreng wajah banyak orang dengan arang akibat kehilangan kesabaran dan mendahulukan hati kemanusiaan. Saya tidak tahu siapa yang memulai ide melaporkan ke polisi. Dan siapa pula yang merasa hebat mendekati para jaksa. Kata mendekati sedikit dikedepankan karena pada kasus Prita, yang menonjol adalah ide, gagasan atau pikiran tetapi bukan nurani.  Saya melihatnya sebagai kegagalan advokasi hukum dan kehumasan rumah sakit OMNI INTERNATIONAL. Mereka menggunakan pedang bermata dua dan mereka telah ingin melukai Prita namun lupa sisi tajam yang lain memotong nadinya sendiri.  Luka lebih dalam dan lebih pedih ada pada sisi pemakai pedang.

Posted by: atakeo | June 1, 2009

Membaca Buku di Toilet

Sudah agak lama saya buku di di kamar kecil. Sambil menguras sisa pembakaran, yang terkadang beruap tak sedap saya membaca buku. Biasanya hanya beberapa halaman tergantung kerepotan menguras sampah dari jeroan. Yang istimewa adalah terkadang saya kelamaan menikmati bacaan sementara urusan pokok telah selesai.

Sebagai orang desa sebenarnya hal ini aneh. Kebiasaan baik di tempat buruk ini saya peroleh dari rumah kediaman seorang Amerika. Ketika saya menggunakan kamar kecil di kediaman teman saya berkebangsaan Amerika di Jakarta, saya melihat rak kecil menaruh buku bacaan. Ide ini saya gunakan setelah saya memiliki rumah dengan jamban duduk di kamar kecil. Buat sebuah rak kecil disamping jamban duduk untuk menaruh buku agar tidak basah pada saat bilas.

Posted by: atakeo | May 28, 2009

Surya Tidak Selalu Benderang

UMUM 251

Kembang kaktus mekar segar dibagi dan malam hari. Justru di kala sang surya terbenam mereka menikmati sukacita. Dalam kekelaman mereka bersyukur.

 Ketika aku membuka komputerku dan membuat catatan ini yang teringat adalah bahwa aku kurang bersyukur atas semua yang telah kuraih. Karena memang saya rasa hari-hariku seperti tidak banyak berarti lagi. Aku lewati hari-hariku dengan bertemu teman-teman tetapi semuanya dirasa biasa saja. Tak ada greget. Tidak ada semangat yang luar biasa.

Semangat hidup kata orang itu seperti api yang dinyalakan pada lilin. Bila api itu tidak ada , maka lilin kehilangan makna. Dia hanya sebuah benda yang tidak bermanfaat. Apakah api semangat itu sudah mulai menurun dalam ragaku? Boleh jadi. Semua bisa terjadi karena mungkin  rencana-rencana bagusku belum tergapai. Ada jurang antara ide, cita-cita dan pencapaian.

Posted by: atakeo | May 18, 2009

Bank Tidak Bisa Membayar Gaji Karyawan

Pasti kita biasa mendengar bahwa ada banyak perusahaan yang mengalami kesulitan membyar gaji. Dana tidak cukup pada saat menjelang bahkan pada hari pembayaran gaji.  Tetapi tadi malam sayaa bertemu seekolompok orang dan salah satunya pemegang sejmlah obligasi dengan nilai yang sangat besar yang biasa diparkir di bank-bank sebagai jaminan (kolateral).

Saya kaget bahwa begitu banyak dan besar jumlah surat-surat berharga itu. Dan yang lebih mengagetkan saya adalah bahwa salah satu bank di Indonesia yang punya rencana untuk menjadi Bank Jangkar Asia (Anchor Bank) mengalami kesulitan membayar gaji karyawan. Dan untuk itu mereka meminta bantuan bank yang paling tua di bumi pertiwi ini untuk menutupi kekurangan itu. Ternyata apa yang dialami oleh dunia usaha juga dialami oleh jasa perbankan. Bikin cemas saja.

Posted by: atakeo | May 18, 2009

FLORES NAN INDAH

iUMUM 309

Posted by: atakeo | May 18, 2009

SALAM JUMPA KEMBALI

Tadi pagi saya bangun dengan agak berat. Waktu di kampung saya mendapat diagnosa mengalami tekanan darah tinggi. Tidak tanggung-tanggung dokter wanita cantik yang bertugas di Danga, Mbay itu memberi penjelasan bahwa tekanan darah saya 200/90. Celaka. Saya terus bercanda. Sebelum ke dokter saya mengalami lengan saya sangat sakit. Selama 3(tiga) malam saya sulit tidur. Mulanya saya ingin tinggal lebih lama di kampung. Tetapi karena kurang sehat saya segera kembali ke rumah di Jakarta. Dan sekarang syukur membaik.

Kepada semua teman bloggers saya mengucapkan selamat jumpa kembali. Selama di kampung komunikasi dunia maya merupakan hal yang sulit. Jangankan internet, surat kabar dan televisi merupakan barang langka. Pasti bisa dibayangkan keterpencilannya. Transportasi masih memakai bis kayu. Mobil truck yang dijadikan kendaraan angkut manusia dengan memasang papan untuk tempat duduk. Kenyamanan menjadi urutan terbawah. Yang paling tidak nyaman adalah urusan naik dan turun dari kendaraan teristimewa bagi orang yang berusia lanjut. Dan kesulitan juga bagi ibu-ibu yang memakai kain sarung. Masih banyak masalah tetapi kita jangana jadi bangsa pengeluh. Kita harus jadi manusia yang berbuat dan berbagi serta terus berjuang.

Posted by: atakeo | February 22, 2009

Pameran Produk Kemitraan dan Bina Lingkungan

Kemarin saya sempatkan diri mengunjungi pameran di Balai sidang. Produk-produk yang dipamerkan adalah hasil usaha para pengusaha Kecil binaan Perusahaan BUMN.  Beragam variasi produk. Perhatian saya hanya tertarik pada produk produk oalahan pangan yang dapat dikembangkan di Nagekeo. Saya lihat ada penganan pisang, mangga, kelapa, yang menurut saya dapat dikembangkan di sana. Ada juga produk dari sabut kelapa.

Apa yang dapat dilakukan oleh orang Nagekeo. Menurut saya pertama adalah datang dan belajar teknologi pangan di daerah-daerah yang sudah lebih maju. Orang Flores, khususnya Nagekeo hanya mengenal singkong diolah dengan cara direbus, dipotong dan digoreng atau dibuat gaplek (saat ini sudah tidak populer lagi). Demikian juga pisang dan mangga hampir tidak pernah ditoleh. Saat ini pisang sudah berkelimpahan dan masih belum mendapat perhatian. Masih banyak tanaman pangan yang diabaikan pengolahannya.

Teknologi pengolahan pangan betappun sederhananya jelas memberikan nilai tambah dan menghasilkan uang. Ini adalah peluang bisnis. Sejak transportasi begitu berkembang di Flores, kita lihat banyak ibu dan anak-anak yang berusaha mengais rejeki dengan menuual makanan kecil di berbagai pertigaan atau perempatan jalan. Yang menarik saya adalah pada ibu di pertigaan jalan Raja Maunori. Ibu-ibu dengan baskom berisi jajan sederhana segera sigap merapat kesamping kendaraan yang melambat di pertigaan itu.

Sayang makanan yang dijajakan masih sangat terbatas. Dan pengolahan masih sangat sederhana.  Masih banyak kebutuhan produk yang bisa dijajakan seandainya ada yang melihat peluang bisnis ini. Orang nagekeo seharusnya belajar banyak pada pendatang di Mbay yang terus menjual singkong  dan pisang goreng. Kalau mereka bisa hidup mengapa penduduk lokal tidak memanfaatkannya.

Saya yakin cepat atau lambat bila pemerintah turut terlibat mengembangkan teknologi pangan maka kelak akan ada produk-produk pangan lain dan berciri nagekeo akan muncul. Semoaga

Older Posts »

Categories