Lahan seluas mendekat satu hektar ditutupi warna hitam dan putih. Kantong-kantong belanja yang dikumpulkan para pemulung. Kantong-kantong itu sudah dicuci dan sedang dikeringkan dengan panas mathari.
Saya menghentikan mobil saya dan berbicara sedikit dengan seorang bapa bertubuh kecil dan bermata sayu. Dia adalah pemilik hamparan kantong kresek yang bertebaran di tanah ladang itu. Di beberapa tempat terdapat tumpukan kantong plastik yang sudah diikat.Siap untuk dikirim ke pabrik. Muhamad Halim yang kuajak bicara juga mau diajak ke kantor saya. Saya merasa lebih nyaman bicara dalam ruang sendiri. Dia dengan terbuka menjelaskan kepada saya bagaimana tentang business kantong kresek bekas alias limbah plastik.
Orang-orang seperti Muhamad Halim disebut dalam bahasa Inggeris Scavenger. Scaveneger juga diartikan sebagai binatang pemakan bangkai. Pemulung itu sama dengan pemakan sampah beda tipis dengan bangkai. Tapi itu hukum alam. kalau tidak ada binatang pemakan maklluk hidup yang busuk, bumi ini terlalu busuk sebusuk koruptor paling kotor dan menjijikan itu. Demikian bila si abang pemulung dan pengolah limbah tidak ada, mau dikemanakan semua tumpukan itu. Dan alhasil bumi bukan bumi manusia tetapi jadi bumi sampah.
Kembali ke Muhamad Halim. Gara-gara Halim saya mencari data tentang kegiatan pemulung sampah ini. Ternyata ada struktur dan syustem kerja di dunia limbah. Industry Pengolah Limbah mendapatkan pasokan dari Distributor dan pedagang Limbah. Distributor mendapat barang dari Majikan Besar ( Lord of scavengers) yang mengelola lapak besar. Sampah baku diperoleh dari para Pengumpul dan Pengumpul menyetor ke Majikan Besar dan majikan besar menyiapkan lagi tenaga pemisah atau Sorter.
Muhamad ternyata seorang seniman pelukis. Dia tidak mau menerima uang sebagai ikatan kontrak. Dia mau merdeka. Dia menggunakan modal sendiri. Hebat juga Muhamad. Dia membuka semua rahasia dagang sampah ini. Muhamad pemulung ini inginkan anaknya sekolah tinggi. Dan sebentar lagi seorang anaknya akan menyelesaikan kuliah.
Terima kasih pada Muhamad karena telah bagi pengalaman dan rahasia dagangnya.
Woh… inilah fotret para “pahlawan lingkungan”. Selain menciptakan lapangan pekerjaan sendiri, secara langsung juga menjadi “pemakan bangkai limbah”. Keberadaannya seringkali disepelekan oleh kita. Andai saja ada kesadaran kolektif di masyarakat kita, bahwa menjaga alam dafat dimulai dengan tertib dan disiplin dalam membuang sampah, maka akan tercipta hubungan yang saling menguntungkan antara sesama manusia, dan manusia dengan alamnya. kalau kita sudah terbiasa menyediakan temfat samfah dan memilahnya berdasarkan jenisnya, maka pengelolaan samfah akan lebih efisien. Lingkungan diuntungkan, para “pemakan bangkai” juga diuntungkan… dan semua juga turut diuntungkan.
Salam kenal…
By: Cabe Rawit on March 21, 2008
at 1:44 am