Harga minyak bumi terus meroket. Apa kaitan dengan orang sederhana sepert sayai? Orang orang sederhana tidakterlalu paham. Semua media massa gencar menulis tentang hal ini. Karena itu berkaitan dengan banyak hal. Yang saya tahu banyak barang dihargai lebih tinggi dari sebelumnya. Kita hanya tahu secara sederhana. Kalau harga bahan bakar naik maka semua harga ikut naik. Harga produksi (industri) naik. Ongkos angkut naik.Harga barang pun pasti ikut naik. Pada sisi yang lain gaji tidak serta merta dinaikkan. Pengusaha berusaha memperlambat kenaikan gaji sekedar untuk menekan biaya yang telah dialokasikan ke bahan baku dan biaya industri atau transportasi.
Pemerintah juga seperti orang rumah tangga atau usaha. Dia sudah menetapkan suatu anggaran untuk satu proyek misalnya pendidikan. Tetapi dengan adanya kenaikan minyak bumi, berarti ada peningkatan anggran pada salah satu pos yang tidak terhindarkan. Dengan demikian pemerintah mulai memperkecil anggaran agar bisa menutupi pos anggaran yang lainnya. Akibatnya ada departemen yang mengeluh karena anggarannya yang diterima tidak bertmbah bahkan disunat.
Apa yang dapat dilakukan untuk diri kita yang sederhana dalam menghadapi semuanya ini?
saya rasa yang paling realistis adalah hemat energi. Kalau subsidi dikurangi, itu bisa bikin kerusuhan, kalau tidak dikurangi, anggaran kita bisa jebol dan tak ada yang jalan.
Solusi sementara adalah hemat energi, sedangkan solusi kedua, mulai beralih ke energi alternatif.
Solusi ideal: menurunkan gaji semua orang di birokrasi.
By: Calvin Michel Sidjaja on May 3, 2008
at 1:01 am
@ Calvin Michael Sandjaja…saya setuju usulan kecuali menurunkan gaji orang birokrasi. Sebab istri dan anggota birokrat sudah menaikkan anggaran belanja sesuai bahkan lebih besar dari gaji. Bisa-bisa para birokrat mogok kerja karena para isteri mogok melayani di rumah. Lalu membeli jajan di luar. Lebih mahal. Jadilah mereka korup alias busuk akal dan busuk laku. Dan itu bikin susah saja lagi.
By: atakeo on May 3, 2008
at 7:10 am
hahaha, sarkas yang bagus!
By: Calvin Michel Sidjaja on May 3, 2008
at 12:36 pm