Saya membaca beberapa komentar pada blog saya, setelah sekitar tiga minggu saya tidak bisa menyentuh komputer. Maaf tidak ada catatan baru. Terima kasih untuk kunjungannya.
Saya berada di daerah bebas polusi. Polusi informasi dan polusi modernisasi. Saya masuk daeah baru yang terbatas sentuhan teknologi. Kata baru saya pakai disini untuk mengatakan bahwa banyak wilayah di Indonesia masih baru terjamah pemebangunan. Salah satu daerah baru itu adalah Nagekeo. Daerah tempat tumpah darahku. Banyak kampung masih menggunakan lampu templok atau pelita dari botol atau kaleng berisi minyak tanah dengan sumbuh dari pilinan kapas. Ketiadaan listrik turutannya jelas. Tidak ada televisi yang menyala. Maka kegelapan menjadi lebih sempurna. Koran lokal terbatas hanya menjangkau para guru dan segelintir orang pilihan (elitis) seperti para Pegawai Negeri Sipil. Korannya memuat berita-berita lokal dengan ruang opini, yang kalau dilalap oleh mata pengerajin baca hanya butuh waktu tidak terlalu lama. Selebihnya hidup kita tergantung dari informasi verbal. Ini yang saya maksudkan dunia polos bebas polusi.
Baru-baru ini saya berada disana. Saya mengunjungi ayah yang sedang tebaring lemah tak berdaya di sebuah rumah sederhana, di pesisir Laut Sawu. Bapakku hidup dalam kegelapan berkepanjangan. Dia menjadi buta dalam usia sangat lanjut. Kaki-kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya. Terakhir saya bertemu untuk meninggalkannya dia sudah menjadi lebih berat menghadapi kehidupannya. Dia sudah jarang makan dan minum. Tetapi tugas memanggilku pulang.
Ketika berada di kampung saya diberi berkat Tuhan menyaksikan beberapa hal. Pertama saya mendampingi ayahku menghadapi hari-hari berat dalam hidupnya. Dia sadar ketidak berdayaan. Kesadaran menyakitkan. Pernah ketika ayahku mengeluh dan meratapi hidupnya di malam hari, saya memberi penghiburan. Pesta Pernikahan Emas seorang adik bapak saya. Dan yang paling asyik adalah saya mengikuti dari dekat PILKADA pertama Kabupaten kami Nagekeo. Saya akan memberikan beberapa catatan untuk hal yang terakhir ini. Agar tidak jadi artikel panjang menjemukan akan saya catat dalam post Atakeo dan Tanagekeo untuk teman-teman saya yang haus info kampung.
salam buat keluargamu yg ada disana,bang
dan aku didoakan selalu ayah abang sehat2.
salamku
By: langitjiwa on August 21, 2008
at 10:30 am
@langitjiwa: Thanks berat untuk atensinya.
By: atakeo on August 21, 2008
at 11:40 am
Reta diru kita ngadha
melanglang buana kita langkahi
Rade tana mbana
Nua oda kita tonga
Ine ame kita kabe
Wutu pu’u ha mbudu
Perintah Ga’e Dewa
“Hormatilah Ayah dan Ibu-mu.”
Ke Modo Mona Sala.
Pawe miu ari ka’e.
@Raturangga: Oe jao punu utu ri’a tudi ena blog jao. Dhei jao so’o lenggi jangga wadi kau pendo jao pata pede ta ri’a pawe. Mai kita papa sadha jengo. Ede koo ngawu mona tii pati, pata pede ngada tau mere ate. Tabe woso…Tali ata Lomba
By: A.B. Raturangga on October 20, 2008
at 2:09 am