FPI pasti bukan agama. Karena tidak ada orang yang berimankan FPI. FPI itu menyandang atribut sebuah agama. Ada Islam di belakangnnya. Ketika sebuah ormas dikaitkan dengan agama, maka misi agama yang menjiwai seluruh aktivitasnya.
Saya tidak mengurangi agama yang diimani leluhur saya, yang Islam. Om-om dan saudara ibu saya haji yang saleh. Waktu itu saya begitu merasakan hidup berdampingan dengan sekelompok kecil manusia, yang karena iman dan kesalehannya kami mengenal agama Allah. Di desa saya pernah didirikan Sekolah Dasar Islam. Guru pertamanya adalah guru dakwah dari pulau Solor, di Flores Timur. Dia yang pertama membawa warna Islam yang agak fanatik dan keras. Dan para orang tua murid Islam sepakati untuk menutup saja sekolah itu. Yang mereka inginkan adalah Islam yang damai. Islam yang toleran pada yang lain.
Ketua FPI setiap kali berbicara meledak-ledak garang dan merasa benar sendiri. Kalau dia memang benar dan sedikit mendengarkan orang lain ini mungkin biasa pada banyak orang. Tetapi bagi Sang Ketua FPI dia selalu berapi-api seperti semburan magma panas dari bawah tanah.
Tak kalah serunya orang-orang FPI berdarah muda beringas di luar ruang sidang. Beteriak, mengangkat tangan dan bertindak anarkis adalah pemandangan biasa bila ada kehadiran FPI. Kebenaran bisa disikapi dengan arif dan dingin. Kalau ini kelompok orang beriman saleh, pasti kita tidak akan mendengar teriakan, angkat tangan, mengamuk dan berindak anarkis. Sampai kapan kita mendapat gambaran psoitif tentang kelompok keras ini. Ajarkan kami Islam yang damai. Perlihatkan kami sikap iman yang saleh dan rendah hati. Banyak orang tidak makan cukup, ada yang harus berteduh dibawah atap karton bekas, ada yang mati kedinginan. Masih ada keprihatinan mendalam pada orang-orang terpinggirkan. Dalam kesesakannya mereka ingin damai dan tenang. Itu yang diharapkan dari agamanya Islam yang damai.