Pagi tadi anjing rumah kami mengonggong tanda ada orang di depan pintu pagar. Seorang ibu, tetangga kami bercelana pendek dan pakaian seadanya menjinjing kantong plastik memasuki halaman rumah kami. Dia membawa sebuah bingkisan. Ketika kantong plastik dibuka ada wadah berwarna merah pink berlubang-lubang dari plastik seperti bakul berisi satu liter beras, 5 bungkus mie, satu bungkus teh, satu bungkus gula. Ibu tersebut mengatakan ini dari keluarga Susilo. Keluarga Susilo baru empat puluh hari lalu mengalami musihab. Ibu Susilo, yang suka menyanyi kroncong itu meninggal dunia, setelah mengalami stroke. Walau beda RT tetapi kami masih saling kenal. Almarhumah mengalami depresi berat karena tidak menyetujui pilihan puteranya. Dan akan nikah akan segera berlangsung pula, karena telah direncanakan jauh sebelum meninggalnya Ibu Susilo. Menurut isteri saya sudah kedua kalinya kami mendapat bingkisan sejenis. Tetangga kami sampai menelpon minta maaf karena kami dikasih beras juga ketika mengirim bingkisan. Sang penelpon tahu bahwa saya dan isteri tidak paham makna semuanya itu. Beda budaya dan adat istiadat.
Ya begitulah…
Anak harusnya berbakti pada ortu bukan pada yang lain
@ari8: berbakti sih boleh.Roda berputar dan gaya Sssiti Nurbaya pun berulang.
By: ari8 on October 18, 2008
at 6:27 am