Waktu itu saya dan teman-teman duduk di ruang tunggu guru kami Frederik Braun, bekebangsaan Jerman. Kami diminta menemani dia mengukur jarak dari mata air ke asrama kami. Semuanya dalam rangka memperbaiki dan menggganti pipa air. Kami bertiga duduk menunggu guru kam, yang masih lama sibuk dan belum keluar dari kamarnya. Ketika dia tahu bahwa kamai sudah lama menunggu, dia menegur. Kenapa kamu hanya menunggu saja. Kamu membunuh waktu. Kamu hidup boros. Bayangkan berapa jam telah kamu buang. Tiga orang kali tiga puluh menit jadi berapa menit yang kamu bunuh. Kamu habiskan tanpa arti. Itu namanya memanfaatkan waktu bukan membunuh waktu. Kamu harus membaca.
Ketika sudah di kota jakarta, saya bertemu dengan seorang imam Katolik yang begitu sibuk. Dia menghabiskan banyak waktu mengunjungi dan memimpin ibadat di rumah warga binaannya. Ketika kebetulan saya menunggu dirumahnya, dia mengatakan aduh saya belum isi tanki. Dia belum menyisihkan waktu untuk membaca buku.
Membaca itu penting. Karena tanpa membaca otak kita akan menjadi seperti tong kosong. Membaca memberikan asupan gizi otak kita sehari-hari. Membaca itu seperti mengembara mencari pengalaman. Karena melalui membaca kita mengenal dan mengetahui banyak hal. Membaca ibarat berguru. Kita belajar dari orang cerdik pandai yang menulis dan membagi ilmunya bagi kita.