Sebuah billboard satu produk, dan saya kira itu iklan rokok. Sedikit bicara , banyak bekerja. Kalau dikaitkan dengan rokok sya pikir boleh juga ini ide. Ya, jelaslah. Kalau anda sibuk berbuat maka sedikit kesempaan bicara. Bagaimana bisa bicara karena bibir anda harus tertutup rapat menahan batang rokok untukmengisap dan menghembuskan asap . Aktivitas menghisap yang lama secara aotomatis mengurangi kesempatan bicara.
Talk lesss do more akan berlaku dimana saja. Kalau kita terus rajin bekerja maka pasti kita tidak punya cukup waktu untuk bicara. Terbalik kalau memang bicara itu adalah kerjanya maka itulah perbuatannya. aktivitasnya jelas adalah bicara. Para dosen, dan tukang seminar…sama seperti tukang batu atau tukang ngaduk semen.
Anjuran sedikit bicara benyak bekerja akan sangat dimusuhi ibu-ibu tukang ngerumpi. Karena ngerumpi alias gossip paling asyik dan lupa memasak nasi buat anak dan suami. Talk less do more akan ditantang oleh para calon presiden dan para legislatif karena mereka musti talking-talking much. Urusan Do more atau do much itu belakangan. Dan hasilnya memang terus terbukti semua waktu dan hasilnya habis di talking talking saja. Tetapi yang menarik kalau para DPR mengadakan rapat. Talk less justeru terjadi disana. Habis kerjanya cuma tidur saja. Yang ditunggu adalah uangnya. Karena banyak para anggota dewan kita yang menjadikan jabatan sebagai kerja bukan pelayanan. Kerja bukan berarti kerja dlam arti sebenarnya tetapi menjadi ladang mencangkul uang. Kalau memang bisa mencangkul sambil tidur mengapa harus sadar dan awas dan menanggapi orang lain bikcara. Baca itu iklah rokok di bill board di Jalan Tahmrin. Dan endap itu dibawah kesadaran do more maksudnya anda talk more, karena tugas para dewan itu bicara. Paham….!!!!