Posted by: atakeo | February 15, 2009

NYASAR DI LEDALERO

Nama Ledalero adalah sebuah nama penuh arti. Bukit tempat bertengger matahari itulah arti nama Ledalero. Saya teringat akan kata Kang In Sik, direktur perusahaan tampat saya kerja. Ketika saya meninggalkan perusahaan itu, dia mengatakan :”kamu adalah tenaga dibalik matahari”. Ini sebuah pujian yang berlebihan untuk kehadiran penuh sahaja saya dalam perusahaan.

Ledalero sebetulnya mencerminkan makna tenaga dibalik matahari. Karena di Ledalero berkumpul para cerdik pandai dengan segudang ilmu di kepala. Dari tempat ini pula muncul kader-kader pemimpin gereja berkwalitas dunia.

Nama Ledalero dan sejumlah cendekiawan seperti tenggelam dalam semak. Tidak ada gerbang yang cukup menyapa dan memberi tanda ada yang bernilai diseberang sana. Begitu banyak gerbang dan tanda serta papan nama yang mencolok mata di kawasan Sikka. Alhasil saya sempat masuk jalan ke Guru -Nilo  terjebak gerbang masuk yang menyita perhatian. Saya menyampaikan itu kepada Rm Philipus Tule Svd  mantan rektor Sekolah juga kepada teman-teman lain di meja makan rumah svd Ledalero.

Posted by: atakeo | February 13, 2009

CATATAN PERJALANAN

Ini  bukan sekedar mencari makan. Terucap nyaring tak tahu berkata kepada siapa atau roh mana malam itu.  Ini kata-kataku dalam sebuah kesunyian malam menyetir mobil avanza hitam ketika saya melewati daerah Sumbawa Besar. Saya kemudian ternyata tersesat mengambil jalan ke kanan dan terus meamasuki jalan yang semakin sepi dan sempit menuju wilayah hutan lindung. Saya tersesat.

Perjalanan darat dari Jakarta ke Flores ternyata tidak mudah. Perjalan hari pertama diawali dengan mengisi bahan bakar penuh di pompa bensin terdekatku sebelum memasuki tol. Penggantian olie saya abaikan sampai di salah satu kota untuk mengaso. Di daerah Rembang saya menginap malam itu. Dan rasa lelah terasa. Kaki kanan pegal karena saya kurang mendapat pasokan air minum. Jam 3 dini hari saya memaulai lagi perjalanan dan menginap di Situbondo. Kali ini saya hampir tidak bisa turun dari mobil. Saya mengklakson sampai reception datang dan mengarahkan saya ke kamar. Saya memaksa turun dengan rasa pegal di kaki kanan bertambah. Saya terus tidur dan terngiang di kepala silahkan tekan bagian yang sakit . Saya menekan bagian kaki yang sakit, saya berkeringat dan rasa pegal hilang. Saya mandi. Dan dini hari jam 2 saya melanjutkan perjalanan. Antara Situbondo Banyuwangi saya melewati jalan penuh hutan sekitar 27 km. Ada rasa tak nyaman tetapi saya meneruskan perjalanan.

Hari Kedua saya mencapai Banyuwangi. Polisi ternyata dimana saja akan selalu berulah. Di gerbang masuk pelabuhan, tempat mengambil tiket masuk , kendaraan lewat gerbang kemudian polisi melakukan pemeriksaan. Setalah pemeriksaan pengemudi turun dari kendaraan menuju pintu ticket untuk beli ticket.  Mengapa pos pemeriksaan polisi tidak berada sebelum pintu ticket? Saya menggerutu tak ada yang hirau. Malam itu berada di atas kapal penyeberangan menuju Bali. Saya tidur dalam mobil.

Hari Ketiga pagi saya sudah ada di Pulau Bali dan meneruskan perjalanan menyeberang  Ke Lombok. Sampai Di Lombok sore hari dan agak malam. Saya meneruskan perjalanan dan mencari makan malam. Sebuah restoran China dengan lampu berkepal kelip ada di kanan jalan. Saya menikmati santapan paling enak selama perjalanan. Sup asparagus dan daging bebek empuk dan paling nikmati yang pernah saya santap. Tetapi porsinya terlalu besar untuk dinikmati satu orang. Saya memuji pemiliknya dan ketika saya disodrokan bonnya ternyata Rp. 100.000,- Saya diam dan membayar selajutnya meneruskan perjalanan. Dengan  beberapa kali tanya saya sampai pelabuhan di penyeberangan Lombok Timur menuju Sumbawa.  Perjalan ferry tidak lama dan sampai di Sumbawa. Sepanjang malam saya meneruskan perjalanan sampai pagi hari dan agak siang saya sampai di Bima.

Hari Keempat di Sumbawa setelah mengalami tersesat di Sumbawa Besar. Saya mencari hotel dan menginap beberapa jam di hotel kemudian meneruskan perjalanan ke Sape. Di Sape tidak mendapat giliran naik ferry, karena ada banyak mobil angkutan menumpuk akibat salah satu ferry rusak. Kembali ke Bima terlalu jauh. Mencari hotel di Sape. Sayang kamarnya kotor dan bernyamuk, maklum semuanya berada diatas rawa. Saya memutuskan menghabiskan malam dalam kendaraan di mkompa bensin.

Hari Kelima, padi dengan penuh perjuangan saya mendapat giliran untuk naik. Saya menjual sakit ayah untuk mendapat prioritas. Dan sore sudah tiba di daratan Labuhan Bajo, Flores. Tanpa banyak membuang waktu saya meneruskan perjalanan sepanjang malam. Perjalanan Labuhan Bajo Ruteng merupakan perjalanan yang paling melelahkan. Banyak tanjakan dan tikungan yang harus di lewati. Jam 10 malam saya tiba di Ruteng dan menacari mencari makan malam di sana. Dan selanjutnya meneruskan perjalanan.

Hari Keenam saya sudah berada diWatujaji,  Bajawa dan meneruskan perjalanan sampai di kampung halaman. Saya mandi di salah satu pompa bensin milik biara SVD di Turekisa, Mangulewa. Berjanjian dengan suadara di empat itu. Kampung  halaman masih jauh, tetapi apa artinya berhari-hari yang telah lewat. Bajawa, Mataloko Boawae, Raja dan terus menuju Maunori serta ke desa kami.  Berhenti sebentar di Mataloko mengambil foto sekedar bernostalgia  tujuh setengah tahun bersekolah di sini.

Hari Ketujuh saya tiba di muka gubuk orang tuaku setelah melewati malam di tempat almarhum kakek. Saya harus membakar lilin dan berdoa tanda hormat pada leluhurku.Mobil diparkir dijalan besar, di Pau Ijo kami harus berjalan kaki dibawah rintik hujan ke rumah kakek di Boamau. Karena lebih dari 30 tahun saya tidak pernah ke kampung ini, adik bungsu bapak menyembelih seekor babi dan makan bersama bapa-bapa sekampung. Kanggo a’o atau merangkul kembali seorang yang telah lama meninggalkan kampung. Dan dari sana saya mengawali perjalanan hidup baru saya di desa.  Terima kasih.

Posted by: atakeo | December 4, 2008

AKU SIAP BERSABAR DALAM KELAM

Berbagai persiapan saya lakukan. Mantablah. Aku ingin kembali ke desaku. Dan kali ini bakalan lama di kampung halaman. Jangkauan telekomunikasi masih sangat minim. Ada satu menara telekom di dekat bibir pantai laut Sawu di pusat kota Kecamatanku. Kecamatan Keo Tengah adalah kecamatan terbaru dalam kabupaten kami yang lama. Kami berada dalam kabupaten pecahan Nagekeo. Jalan raya ke kampungku masih berbatu daripada dibilang beraspal. Penerangan listrikpun hanya karena kagetan ada acara perlombaan baca al Quran. Karena di kabupaten ini warga Muslim cukup banyak ditengah mayoritas Katholik. Hampir  semuanya keluarga dan bukan pendatang. Sedikit pendatang ada keluarga Habib.

Komunikasi sosial berbeda agama tidak pernah bermasalah. Karena kami semua serumpun kecuali keluarga Habib yang datang dan menetap untuk berdagang, bukan untuk tujuan pewartaan Islam. Kalau ada yang karenanya masuk Islam ini adalah keteladanan mereka. Ternyata mewartakan dengan teladan lebih nyaring daripada dengan kata dan gema di menara. Terakhir ketika saya berkunjung pada bulan Agustus ada sebuah pernikahan Islam meriah di tanah lapang Maunori, yang kini jadi pasar. Artinya populasi Islam meningkat tajam berdampingan dengan warga non Muslim. Tidak ada takbir keras memekakkan kuping seperti di Jakarta. Dia hening seperti saya baca di Kompas ada mesjid megah di Roma. Saya menemukan damai antar umat di Flores, khusus di Keo, tempatku kelahiranku. Dan kubangga menyebut diri Ata Keo (orang Keo), karena disana ada damai, disana ada persahabatan, disana ada kerukunan dan toleransi. Siar agama melalui teladan bukan melulu kata. Karena itu adalah iman sejati. Iman diwujudnyatakan dalam perbuatan. Bukan iman tong kosong atau tong rombeng. Tong kosong nyaring bunyi tanpa isi. Tong rombeng berbibir tajam menyakitkan bahkan melukai. Itu iman para teroris. Mereka berteriak nama Allah. Mereka mengatakan diri laskar Allah. Mereka membunuh sambil meneriakkan namaNya.

Kesana aku akan kembali. Yang pasti saya akan kehilangan komunikasi dengan para sahabat blogger. Tidak ada lagi media massa yang selalu menyapa sebelum aku sarapan. Aku akan kehilangan KOMPAS. Aku tidak usah lagi berlinang air mata melihat acara bedah rumah. Aku pasti tidak sempat lagi menyaksikan televisi menyajikan tumpahan airmata haru orang miskin menerima kasur dan nasi bungkus. Di sana memang ada perbuatan, tetapi terlalu banyak kata untuk perbuatan itu. Mereka mewartakan kebaikan mereka. Keteladanankah itu? Ya dan tidak. Karena yang diberi jauh lebih sedikit daripada yang mereka sedot. Itu adalah sarana menggaruk rejeki yang dilakukan rumah produksi dengan menjual lara. Tanpa berita anyar, putus hubungan dengan para sahabat blogger sampai teknologi menyapa desa kami, saya pasti lebih banyak dalam kegelapan. Saya sudah siap. Kali ini aku mengendarai kendaraan sendiri dari jakarta dengan menyeberang empat kali baru sampai di Labuhan Bajo dan seterusnya saya akan menuju desaku. Empat dos kemasan air minum kuisi dengan sejumlah buku-bukuku. Saya punya The Catholic Ecnyclopedia for School and Home, Grolier Incorporated New York tahun 1965 ditinggalkan di rak buku. Tak kuat ku bawa. Disana mungkin saya tak perlu referensi ilmiah, saya akan beli buku-buku lebih praktis dan membuat perpustakaan baru yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat.  Saya harus menjadi bagian dari mereka.

Sudah sekitar 3000 pengujung ke blog ini, jumlah ini tidak besar dalam pandangan para blogger kawakan. Tetapi bagiku para pengujung blog adalah sahabatku. Anda telah menyapa saya. Saya pun telah menjadi bagian dari anda kalian. Anda telah dan akan terus menjadi pelita bagi saya dalam kekelaman desa. Ini sebuah pilihan. Saya telah memilih. Satu pilihanku, kembali ke desa setelah Tuhan bermurah hati saya diberi rejeki punya fasilitas cukup di kota. Karena selama ini  aku merasa ”mbo’o me’a (kenyang sendiri).

Posted by: atakeo | November 27, 2008

Aku Mendapat SIM A

Hanya dalam bilangaan waktu sangat singkat, tidak lebih dari 15 menit SIM A sudah diterbitkan.  Ini bukan karena saya orang istimewa. Urusan menjadi sangat singkat karena saya tidak istimewa.  Saya dianggap orang bodoh dan harus beli segala sesuatu pakai uang.  Dengan uang saya menyerahkan data kepada calao. Dan calo menghubungi orang dalam, kita hanya datang ke loket 24, sidik jari dan tanda tangan, kemudian foto. Pindah ke loket 30 nama segera dipanggil. Karti Ijin Mengemudi sudah ditangan. Percuma jadi orang cerdas. Tidak usah sekolah susah-susah. Karena sungguh kecewa. Kepandaian tidak bisa digunakan. Otak kita ditutup oleh calo. 

Urusalah SIMA melalui calo. Karena melalui mereka cepat selesai. Ini kenyatannya. Polisi dan calo punya kerja sama. Kaena ada sebahagian polisi adalaha calo.

Posted by: atakeo | November 18, 2008

KOMPUTERKU DITERJANG VIRUS

Ini awal masalahnya. Saya sendiri. Berhadapan dengan komputer sekedar sebagai pengetik saja. Minimnya pemahaman membuat saya  berada dalam kelam bila komputerku demam kena virus. Menghadapi komputer seperti menghadapi radio transistor. Menghidupkan menikmati dan mematikan lagi. File name: E:/DOCUMENTS AND SETTING\CIJANTUNG\DOCUMENTS\PIXMA IP1000\communinc.exe Threat name: virus found Wind32/Heur  Detected open itulah skript yang saya temui. Membingungkan saja. Mungkin ada teman yang bisa membantu…

Posted by: atakeo | November 18, 2008

RUPIAH TERPURUK

Begitu banyak negara Uni Eropa mengalami resesi. Amerika sudah mengalami lebih dulu. Dan bola salju terus begulir ke Asia dan Indonesia pasti kena imbas. Rupiah terpuruk makin dalam. Apa yang pernah kukatakan dalam blog ini menjadi nyata.

Posted by: atakeo | November 18, 2008

SERTIFIKAT TERMAHAL DAN TERSULIT BERNAMA S.I.M

Palayanan Kepolisian di tempat pembuatan Surat Ijin Mengemudi (SIM) sangat istimewa. Ketika kita memasuki gerbang utama ada polisi yang menjaga sehingga siapapun mudah membelokkan kendaraan memasuki komplek istimewa ini. Dalam perjalanan dari Grogol ke Kalideres, setelah jembatan layang kita bisa menemukan papan petunjuk  dan sesudahnya kita belok kanan. Setelah pintu gerbang terbuka kita akan melewati sebuah pos, kendaraan melaju pelan tanpa kontrol, dan sesudahnya ada pintu karcis parkir. Sesudah pintu parkir ada pos polisi. Dari ruang ini diudarakan siaran berulang tata cara memperoleh SIM dan nasehat agar tidak terjebak calo yang tak bertanggungjawab.

Seorang polisi berpakaian preman berkomunikasi melalaui hape :” disini masih banyak natrean, rame sekali. Sabar….” Mendekati lima puluh orang baris menunggu giliran untuk cek kesehatan. Ada banyak penjual ballpoint dan pensil. Ada yang menyewa sepatu untuk memenuhi tuntutan bersepatu masuk ke gedung pembuatan SIM. Di pintu masuk tamu diterima ramah oleh dua polisi dan terkadang ditemani seorang wanita berpakian rapih dan berselempang. Di setiap area dekat mulut loket ada petugas yang ramah menanykan keperluan dan mengarahkan calon pemegang SIM.  Semuanya begitu tertib. Ketika naik ke lantai kedua, ada ruang untuk ujian tertulis. Ada petugas laki dan wanita berpakaian rapih berslepnang tanda bertugas. Menarik luar biasa. Senyum dan sapa ramah menenangkan.

Keramahan itu semua ternyata semu. Ujian SIM yang begitu mudah begitu sulit dilewati bagai melewati lubang jarum. Buka saja di situs Google dan ketik saja “membuat SIM A” kita akan dikejutkan seperti saya terkejut dan dipermalukan sekeluarga. Ternyata ada yang harus mengulang sampai 6 kali. Apa sih susahnya menjawab soal dengan jawaban tersedia dan berbentuk pilihan?? Jangan anda anggap enteng karena begitu banyak orang harus ulang. Ujian membuat SIM terasa lebih Sulit dari Tes masuk peguruan tinggi, bahkan bisa lebih sulit dari tesis doktor. Untuk SIM kendaraan roda dua ada yang sampai ulang 6 kali.

Kita bertanya ada apa dibalik semuanya?? Jangan buruk sangka. Suasana di tempat parkir atau seluruh halaman komplek betul steril dari para calo. Jadi kita boleh dan pantas mengangkat jempol aparat kepolisian kita luar biasa bebas korupsi. Benarkah…..?  Tunggu kita akan bagi pengalaman lebih lanjut. Karena saya juga masih akan mengulang ujian berat membuat SIM A setelah saya mengemudi lebih dari 20 tahun…….. Mari kita bagi pengalaman atau biar keren syering  dan bersama mengangkat puji atau mengungkap kesal kepada bapa dan ibu polisi…  Ya Tuhan begitu susahkah untuk mendapatkan sertifikat mengemudi di negeri ini…??? Bagaimana pendapat sahabat blogger…???

Posted by: atakeo | November 10, 2008

TERORIST DAN KEMARTIRAN SEBUAH PARADIGMA BARU

Saya begitu kagum akan keteguhan hati para terorist dan terpidana mati Amrozi dan rekan-rekannya. Iman menjadi benteng yang begitu kuat sehingga tidak ada yang bisa menggoyahkan mereka. Mereka siap menatap kematian dengan sadar. Karena mereka bersikukuh bahwa perbuatan yang dikutuk begitu banyak orang di seantero jagat sudah sesuai dengan kayakinannya dan akan menghadirkan surga bagi mereka.

Saya menyaksikan TV ONe secara on line menyajikan berita jam-jam dan menit-menit mendebarkan dimana kehidupan manusia ciptaan Tuhan akan berkahir di ujung senapan regu tembak jitu. TV One secara seimbang menyajikan akibat dari ledakan dahsyat bom di tempat hiburan Legian Bali tahun 2002. Sebuah pemandangan yang memilukan, mengiris setiap hati yang berperikemanusiaan. Terkadang di layar televisi menampilkan sekilas wajah para pelaku yang tersenyum dan menampilkan sorotan mata menantang. Berulang kali disiarkan pamandangan itu. Para penderita dengan cacat permanen, ada anggota keluarga yang berwajah sendu memperlihatkan wajah orang dikasihi, yang terbunuh oleh serpihan bom maut itu. Televisi menyajikan semuanya secara seimbang. Racikan menu siaran disajikan membiarkan kita menikmati dan menilainya.

Pernyataan kesyahidan narapidana tereksekusi oleh keluarga, entusiasme masyarakat menerima jenasah membenamkan saya dalam sebuah kolam pertanyaan tanpa jawab. Masuk surga karena orang melakukan segala sesuatu sesuai dengan hati nurani dan iman kepercayaan termasuk melenyapkan hak hidup sesama. Benar dan sahkah itu? Ada 202 orang meninggal dan 315 orang cacat. Sang pelaku memanggil nama Allah dan menebar senyum dan tawa. Bagaimana kita semua menafsirkannya. Saya teringat seorang yang begitu susah dan telah bersujud kepada Allah, tetapi dia tetap menderita. Yang membuat saya tidak pernah lupa, dia mengatakan apakah dia telah memilih Allah yang salah.

Semua orang beriman percaya bahwa Tuhan itu ada. Pertanyaanku apakah Allahku dan Allah para pelaku bom Bali berbeda? Kalau memang berbeda lalu apakah aku atau dia yang salah memilih Allah? Sebuah permenungan  dalam kolam tanya tak terjawab!!!

Posted by: atakeo | November 4, 2008

WONDERFUL CHAT WITH GOD

God: Hello. Did you call me?

Me: Called you? No.. Who is this?

God: This is GOD. I heard your prayers. So I thought I will chat.
Me: I do pray. Just makes me feel good. I am actually busy now. I am in the midst of something.

God: What are you busy at? Ants are busy too.
Me: Don’t know. But I can’t find free time. Life has become hectic. It’s rush hour all the time.

God: Sure. Activity gets you busy. But productivity gets you results.
Activity consumes time. Productivity frees it.
Me: I understand. But I still can’t figure out. By the way, I was not expecting YOU to buzz me on instant messaging chat.

God: Well I wanted to resolve your fight for time, by giving you some clarity. In this net era, I wanted to reach you through the medium you are comfortable with.

Me: Tell me, why has life become complicated now?
God: Stop analyzing life. Just live it. Analysis is what makes it complicated.

Me: why are we then constantly unhappy?
God: Your today is the tomorrow that you worried about yesterday. You are worrying because you are analyzing. Worrying has become your habit. That’s why you are not happy.

Me: But how can we not worry when there is so much uncertainty?
God: Uncertainty is inevitable, but worrying is optional.

Me: But then, there is so much pain due to uncertainty.
God: Pain is inevitable able, but suffering is optional.

Me: If suffering is optional, why do good people always suffer?
God: Diamond cannot be polished without friction. Gold cannot be purified without fire. Good people go through trials, but don’t suffer. With that experience their life become better not bitter.

Me: You mean to say such experience is useful?
God: Yes. In every term, Experience is a hard teacher. She gives the test first and the lessons afterwards.

Me: But still, why should we go through such tests? Why can’t we be free from problems?
God: Problems are Purposeful Roadblocks Offering Beneficial Lessons (to) Enhance Mental Strength. Inner strength comes from struggle and endurance, not when you are free from problems.

Me: Frankly in the midst of so many problems, we don’t know where we are heading..
God: If you look outside you will not know where you are heading. Look inside. Looking outside, you dream. Looking inside, you awaken. Eyes provide sight. Heart provides insight.

Me: Sometimes not succeeding fast seems to hurt more than moving in the right direction. What should I do?
God: Success is a measure as decided by others. Satisfaction is a measure as decided by you. Knowing the road ahead is more satisfying than knowing you road ahead. You work with the compass. Let others work with the clock.

Me: In tough times, how do you stay motivated?
God: Always look at how far you have come rather than how far you have to go. Always count your blessing, not what you are missing.

Me: What surprises you about people?
God: When they suffer they ask, “why me?” When they prosper, they never ask “Why me”. Everyone wishes to have truth on their side, but few want to be on the side of the truth.

Me: Sometimes I ask, who am I, why am I here. I can’t get the answer.
God: Seek not to find who you are, but to determine who you want to be. Stop looking for a purpose as to why you are here. Create it. Life is not merely a process of discovery but a process of co-creation. You are my co-creator.

Me: How can I get the best out of life?
God: Face your past without regret. Handle your present with confidence.
Prepare for the future without fear.

Me: One last question. Sometimes I feel my prayers are not answered.
God: There are no unanswered prayers. At times the answer is NO.

Me: Thank you for this wonderful chat.
God: Well. Keep the faith and drop the fear. Don’t believe your doubts and doubt your beliefs. Life is a mystery to solve not a problem to resolve. Trust me. Life is wonderful if you know how to live. “Life is not measured by the number of breaths we take but by the moments that took our breath away!

Posted by: atakeo | November 4, 2008

AKU HARUS BERBUAT SESUATU

Kemarin saya tiba-tiba berpikir tentang rasa kantuk di tempat kerjaku. Kubuka catatan pintar di Google. Dan saya temukan penjelasannya . Katanya ini bisa merupakan gejala penyakit gula. Jadi kaget juga. Lalu kupikir ini pasti ada kaitan dengan penimbunan lemak yang tidak terpakai. Banyak duduk, tidak olah raga dan tidak tahu diri dalam memilih makanan. Harus ada sesuatu yang kulakukan untuk ini.

Ketika di rumah tidur telentang di lantai beralaskan karet empuk yang disambungkan kaya mainan anak-anak, yang suka diacak dan disusun lagi. Tak tahu apa namanya. Aku merentangkan tanganku lurus keatas kepala dan kutegakkan kemudian kuangkat kepalaku. Dan persambungan tulang punggungku berbunyi. Dan pegal hilang. Aku melipatkan satu kakiku sampai telapakku menyentuh tekukan lutut sebelahnya., Kulakukan itu bergantian. Kubangun dan duduk bersila dengan manis. Dan saya menjadi lebih lentur duduk bersila, yang selama ini kurang bisa kulakukan dengan sempurna. Kukatupkan tanganku kusorongkan ke depan antara kedua kakiku. Sikap sempurna seorang bersemadi. Napasku kutarik tahan dan kemudian kuhembuskan. Kutegakkan badanku dengan sempurna, hening berusaha melupakan segala dan berkonsentrasi pada napasku. Lepas, lega dan nyaman…..

« Newer Posts - Older Posts »

Categories