Posted by: atakeo | January 20, 2008

NAGEKEO MEMILIH BUPATI

Ketika ada isue pemekaran kabupaten Ngada menjadi Ngada dan Nagekeo ada yang pro dan yang kontra. Ada yang bersikukuh Ngada harus dengan Nagekeo. Sementara terbesar orang Nagekeo lebih memilih mempunyai kabupaten sendiri. nampaknya ide pemekaran memang dilandasi rasa primordial. Rasa kesukuan. Hal ini bisa dilihat bila ada pemilihan bupati baru. Selalu ada tarik menarik kepentingan dalam hal ini. Baik orang Bajawa maupun Nagekeo mempunyai pilihan yang berbeda.

Ketika misa peringatan 40 hari wafatnya mantan Bupati Ngada, Drs. John Bei, seorang sahabat almarhum dan juga seorang mantan petinggi propinsi NTT dr. Ben Mboi, mengusulkan agar jabatan bupoati digilir saja. Usulan yang mungkin tidak sejalan dengan semangat demokrasi. Tetapi usulan ini wajar saja. Selalu ada tarik menarik kepentingan dalam urusan memilih bupati Ngada. Hal serupa dikemukakan oleh mantan Menaketrans Yacob Nuwa Wea. Memang selalu ada ribut kalau ada pemilihan bupati baru.

Lalu pertanyaan kita setelah Nagekeo jadi kabupaten, siapa yang layak jadi bupati hasil pemilihan langsung nanti. Nagekeo adalah sebuah wilayah yang baru dikembangkan. Ibu kota Kabupatennya Mbay masih seperti kampung. Sementara sebagian terbesar wilayah masih terisolasi. Bicara soal ini tidak ada orang Nagekeo lain selain Yacob Nuwa Wea merupakan orang yang layak diberikan pujian khusus. Beliaulah yang yang menggagas dan merealisir pembukaan jalan dari jalan propinsi di Raja menuju pantai selatan Maunori, di wilayah kecamatan Keo Tengah. Dengan terbukanya isolasi wilayah selatan, begitu banyak perkembangan yang dapat dilihat kasat mata. Arus manusia dari kampung-kampung wilayah selatan menuju Aeramo menjadi lebih lanacar. Dan ada pertumbuhan ekonomi telah terjadi akibat terbukanya jalan raya tersebut. Bis-bis kayu selalu penuh.Terjadi lalu lintas barang dagangan seperti kakao, vanili, kelapa serta ternak.

Dengan sebahagian besar wilayah berada tepencil tanpa lalau lintas kendaraan tentu saja merupakan tantangan bagi siapa saja yang kelak ingin memimpin wilayah ini. Kalau sekrang kita berkunjung ke kampung-kampung atau desa-desa di Nagekeo, kita bisa lihat ada kalender atau ucapan selmat dengan foto wajah para calon bupati.

Ternyata banyak wajah yang tidak dikenal masyarakat. Mereka orang nagekeo yang besar dirantau. Mereka ingin jadi tokoh yang pemimpin dan menjadi panutan. Sadarkah masyarakat, mereka ini sebetulnya merasa asing di daerah dan mungkin mengalami kesulitan untuk bekesistensi di daerah ini. Lalu mereka ingin memimpin. Mengurus dirinya saja susah. Bagaimana mungkin jadi pemimpin untuk masyarakat yang sebagaian besar berada di kampung-atau desa terpencil.

Selama ini bisa kita cermati Nagekeo selama dalam wilayah Ngada. Berpa kali masyarakat lihat bupatinya. Setelah isolasi selatan terbuka apa lagi belum dibuka, kunjungan buopati selama masa jabatan bisa dihitung. Tetapi jangan tanya berapa kali para bupati ke Jakarta yang jauh disana. Jauh lebih mudah ke Jakarta. Tidak heran kalau bupati Ngada selama ini lebih nyaman mengurus kota daripada kampung.

Bupati Ngekeo harus orang yang betul pernah tinggal di wilaya ini. Dia seorang yang betul mengenal kampung-kampung di wilayah ini. Saya sangat tertarik ada seoprang calon yang benar masuk keluar kampung untuk mengetahui situasi sesungguhnya yang perlu diketahui sambil memperkenlkan diri. Bupati baru harus ingat, kalau dalam dunia business kita tahu siapa rajanya. Pelanggan adalah raja. Pelayanan yang dipasarkan oleh bakal calon bupati adalah jualan yang ingin dibeli masyarakat. Tidak usah gagasa muluk bagi rakyat desa. Yang pas dengan kebutuhan mereka saja. Prioritas utama adalah mbnuka isolasi dan pengadaan air minum. Kompas baru saja menyajikan berita bahwa orang Keo Tengah masih minum air kali. Bagi orang Nagekeo hal ini biasa saja karena memang tidak ada pilihan lain.

Tantangan tidak sedikit bagi bupati Nagkeo terpilih. siapa saja yang menjadi bupati kelak harus orang yang mau turun ke kampung. tolok ukuran keberhasilan dan kemajuan dari seorang bupati Nagekeo bukan di Mbay tetapi di kampung-kampung. Bagi para pemilih pilih saja aorang yang siap jalan dan bersusah bersama masyarakatnya di kampung. Bukan orang yang menikmati hidup nyaman di rantau.


Responses

  1. Saya setuju bahwa yang menjadi pemimpin di Kabupaten nagekeo haruslah putra daerah yang benar-benar mengenal secara dekat seperti apa Nagekeo yang akan dipimpinnya dan pernah bermukim lama di Nagekeo bukan mereka yang tiba-tiba muncul hanya saat akan ada pemilihan bupati Nagekeo. Satu lagi yang juga perlu diingat kembali adalah mereka yang saat ini mengajukan diri menjadi calon pemimpin nagekeo apakah dulu pernah berjuang untuk saat pemekaran Nagekeo. Berikanlah kesempatan kepada mereka yang memiliki benar-benar memiliki kemampuan sebagai pemimpin untuk sebuat daerah baru yang syarat akan berbagai masalah yang harus diselesaikan secara tuntas tanpa memandang suku agama dan ras. Selamat berjuang semoga yang menjadi bupati nagekeo adalah hasil dari suara rakyat suara Tuhan. tk ima jakarta

  2. hmmm,,,benar juga,,,btw siapapun candidate saya support at least visi dan misinya bisa dipercaya dan punya commitment untuk away from corruption dan bisa pegang asas `Manu Kako Papa Walo,,,cheers from somewhere

  3. Nagekeo perlu diletakkan secara benar sejak awal. Karenanya kita butuhkan orang yang punya ide membangun. Kalau sekadar jadi bupati, itu artinya hanya kejar jabatan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: