Posted by: atakeo | March 5, 2008

Corprate Farming

Kompas hari ini Rabu 5 Maret 2008, menurunkan judul Liberasi Tanaman Pangan, di Ruang Bisnis & Keuangan. Terus terang saya kurang paham banyak tentang hal itu. Tetapi dalam sub judul “Teknik Budidaya Petani Kecil didorong ke “Corporate Farming”,  agak lebih menginjak bumi.

Ketika orang Flores menanam macam-macam di kebunnya, di Malanuza, Mataloko, ada satu kebun sangat luas, sejauh mata memandang hanya ada jagung. Lahan diolah pakai traktor. Dan hasil penennya luar biasa. Hasilnya tidak untuk dijual tetapi digiling untuk pakan ternak, babi dan sapi. Selain daging yang berkwalitas, di Mataloko ada usaha pembuatan keju.

Di Indonesia, kita juga melihat lahan-lahan sawah luas terbentang di berbagai daerah di Nusantara. Tetapi itu adalah milik orang perorang dan hanya dalam ukuran kecil. Hasilnya pun terkadang tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. 

Kapan petani mengelola sawahnya. Setiap orang mempunyai jadwal waktu sendiri. Sehingga disana sini terlihat ada yang masih di pesemaian, ada yang sedang menguning atau dipanen. Semuanya urus sendiri sendiri.

Lalu ada ide gagah membangun kelompok tani yang disebut sebagai satu wadah besar atau badan (korporasi). Muncullah istilah coporate farming yang mengedepankan kebersamaan. Kebersamaan dalam beberapa sisi. Sisi lokasi kebersamaan harus ada dalam lokasi yang sama.Satu jenis tanaman  dan  dalam lokasi yang sama dan jumlah besar.  Itu berarti sejauh mata memandang ada hanya satu jenis tanaman dan dalam usia yang sama. Yang kita lihat bukan lagi kebun-kebun kecil tetapi sebuah perkebunan jenis tanaman homogen dan luas.

Orang Gorontalo karena dipimpin oleh pengusaha dan pedagang sudah mengawalinya. Jagung jadi primadona hasil tani yang memasuki pasar dunia.  Saya bayangkan kelak ada perkebungan padi  yang sangat luas seperti kalau kita ke Sumatera atau Malaysia ada perkebunan kelapa sawit. Kelak pasti tidak aneh tiba-tiba kita lihat satu daerah yang ada hanya singkong saja, atau jenis tanaman apa saja. Karena ada satu jenis tanaman terhampar luas, maka kelak kita akan lihat ada satu helikopter terbang tinggi bisa menyirami anti hama dari udara.  Di sebuah ujung sana ada satu gedung besar penampung hasil tanaman dan syukur mungkin ada tempat pengolahannya. Harga produk pertanian dan hasil susulannya akan bersaing dan menguntungkan petani.  Kita bisa bayangkan petani makmur dan desa sejahtera.  Indonesia adalah negara agraris dengan jumlah  penduduknya sebahagian terbesar tani. Kalau sebagian besar petani makmur maka jaya makmurlah Indonesia. Kapan? jangan jangan ini hanya sekedar ide orang-orang politik yang sedang berada di singgasana. Kita hanya ahli komentar. Akui saya juga termasuk didalamnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: