Posted by: atakeo | April 10, 2008

MEMENDAM KESAL URUSAN SELERI

Kalo kita kerja keras dan ada hasilnya kita rasa puas. Hasilnya itu mungkin berupa target yang diberikan atasan kita. Atau tergetkerja yang kita pasang sendiri. Tetapi hasil sebagai seorang karyawan biasa dilihat dari apa yang dibawa pulang kerumah. Envelop gaji gendut.

Saya beberapa kali keluar dan pindah kerja. Bukan kutu loncat ni. Karena masa kerja selalu cukup lama. Tidak pernah saya menuntut gaji karena hampir semua yang terima saya selalu baik dan beri gaji yang lebih dari teman-teman sekantor. Kalau saya pindah saya bilang baik-baik karena siapa tahu bisa papasan di jalan dan bisa tebar pesona senyum sahabat.

Baru-baru ini saya tidak puas dengan isi envelop saya yang  kembung tetapi tidak cukup. Komunikasi sama bos baik-baik saja. Tetapi saya tidak bisa dengan enak omong soal tambah isi envelop saya. Dalam kekesalan saya buka situs Yahoo dimana saya numpang jalur kirim surat. Dan saya tulis begini buynyinya (ini terjemahannya, soalnya saya pakai bahasa Jawa purba disana):
” Sulit bagiku untuk mengungkapkan ini, tetapi kali ini aku harus omong tentang seleri. Hati terbawa perasaan turun dan naik memikirkan ini. Pada dasarnya seleri saya tidak cukup untuk menutup biaya hidupku. (terngiang nyanyian isteri) . Seleri adalah uang gaji yang saya dan isteri bisa gunakan secara merdeka . Bila ini berkelanjutan maka mungkin saya tak mampu menahan diri untuk berpikir ulang dan putuskan kerjasama ini. Dan hanya anda yang bisa menyelesaikannya. Salam.” Saya panggil seorang staff accounting kami yang jadi office manager. Dia juga lagi ke ruang saya ingin ikut bersama saya pulang. Dan sayapun mengklik mouse dan terkirim.

Sepanjang jalan saya bicara sama teman tentang haru biru perasaanku. Dan sampai di rumah kepada isteriku yang biasa cerewet menumpahkan isi envelop yang tipis  itu kuceritakan. Pagi hari saya kekantor setelah jam 10. 00 pagi(Tak patut ditiru) . Bosku sudah di ruangan. Saya pikir dia sudah terima berita  yang dititipkan melalu yahoo. saya juga tidak bicara dengan bos saya. Tutup pintuku. Dia juga tutup pintu. Saya tertidur di hadapan layar komputerku kemudian  bangun keluar menengok bosku dan kedapatan dia  tidak di kamar lagi. Hari berikut dia tidak datang. Perasaan saya terbebani klikan surat keberatan berat-berat seleri yang terlalu ringan itu.

Saya merasa tidak enak karena hubungan sangat baik tetapi tidak bicara langsung saja. Saya kemudian membuka e-mail saya. Dan saya buka draft yang masih belum dibuka. Ternyata surat saya tidak ke send tapi ke draft. Tetapi masih saja hati tak enak. Setelah dua hari tidak ketemu dapat telepon jam 21.30 dari bos saya yang agak mabuk (wong Korea) sory kalau dia belum beri saya imbalan yang pas. Saya bilang gaya melayu Jawa, yang mlayu dari kenyataan dan bilang berbahasa sangat basi : it is ok. No problem. Aneh dia tahu perasaan saya. Rasanya saya hanya ngelik sekali dan kedapatan dalam draft. Untung  saya tidak kirim. Kalau ngesend mungkin saya juga mengesend diri juga dan envelop gaji yang tipis bisa jadi kosong. Ini urusan harga diri. Karena harga diri itu adalah milik satu-satunya setelah semuanya hilang termasuk harta benda yang memang tiada. Payah juga kita  jaga harga ini.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: