Posted by: atakeo | April 13, 2008

SENYUM DI TONGKAT KAYU

Saya dan isteri pergi ke gereja hari Minggu jam 6.00. Karena rumah sangat dekat dengan Gereja biasanya sekitar 7 menit sebelum lonceng bunyi baru jalan. Di ujung gang ada bendera kuning. Saya menyingkap bendera yang agak terkulai itu ada tulisan Bapak Murtono RT 07/Rw 06. Lokasinya di Cijantung. Gangnya persis di muka Gereja Katholik. Saya ingat ada kotbah tentang PINTU. Masuklah melalui pintu … dan lain-lain penafsiran pesan Nabi. Setelah saya dan isteri keluar dari pintu Gereja menuju pintu pagar dan pintu rumah serta pintu kamar tidur kami pergi melayat tetangga kami Murtono. Sebelumnya saya menelpon seorang sahabat Suradi yang rumahnya persis depan rumah duka.

Suradi bercerita bahwa dia baru bangun tidur karena tadi malam jam 01.30 pak Murtono meninggal. Tetapi pada jam 20.00 malam baru menjenguk pak Murtono sahabatnya dari gereja yang meninggal. Ketika ada yang tanya apakah yang meninggal pak Murtono depan rumah dia menjawab bukan. Tetapi begitu kembali melayat dari Murtono yang jauh dari lingkungan kami, dia mendapatkan Murtono depan rumah menyusul menyeberang ke alam baka.

Saya dan isteri ke rumah duka. berjalan kaki 3 menit. Disana ada banyak tetangga berdatangan. Ada  ibu-ibu yang merangkai kembang. Ada dua baskum bertutup kain seadanya, satu terletak dia tas kursi  di bagian dalam pintu pagar. Dan satu lagi dibawah atap sebelum pintu masuk. Orang-orang menaruh simpati jasmani  dengan menaruh envelop kecil dalam baskum tertutup kain itu dan kemudian menaruh simpati rohani menyalami angota keluarga duka dan menjenguk jenasah dan berdoa.

Saya sangat terkesan pada para pelayat. Ada tiga orang ibu yang datang bertongkat (tidak berbarengan). Seorang dari pelayat bertongkat telah kehilangan satu kaki. Dia berjilbab dan memakai gaun hitam lebar sehingga agak saru kecacadannya. Kesannya dia sangat sederhana. Tongkat kayu buatan sederhana. Berbeda dengan pelayat bertongkat lainnya. Dia menebar senyum kepada orang -orang termasuk saya yang duduk dikursi. Dia memberi inspirasi bahwa hidup harus diterima dan dijalani dengan sukacita. Senyum di tongkat kayu mengundang tafsir seribu makna. Ya Tuhan kuatkan hatinya! Tabahkan dia dan tabahkan kami menghadapi segala lara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: