Posted by: atakeo | April 21, 2008

Gugup Menghadapi The Smiling General.

Saya pernah omong-omong dengan seorang Chile  Juan Federer,yang pernah  jadi Konsul Chile di Jakarta. Dia  mengatakan kepada saya  bahwa dia juga gugup ketika berjalan di atas permadani merah menghadapi seorang presiden negera ribuan pulau yang penuh wibawa itu.  Dia mau mengatakan jangan takut setiap orang mengalami rasa gugup termasuk dirinya ketika menyerahkan Surat Kepercayaan kepada The Smiling General Soeharto. Bayangkan kalau dia menghadapi anker jenderal. Berabe juga si Chile.

Setiap orang termasuk aku ini pernah merasa kikuk di suatu tempat baru. Dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman seorang bisa mudah menyesuaikan diri dengan keadaan. Ketika pertama kali saya tiba di jakarta, saya merasa tidak terbiasa dengan hiruk pikuk kota terutama stasiun kereta. Saya buru-buru cari taksi.  Sopir taksi menggiringku bertamasya keliling Jakarta sebelum sampai ke tempat tujuan. Dan dompetku yang sudah tipis menjadi lebih tipis setelah  harus membayar mahal sesuai jumlah kilometer.

 Terkadang kita mengalami rasa tidak nyaman memasuki ruang kantor yang besar dan disoroti banyak mata. Atau kadang -kadang kita menjadi kikuk hanya untuk mencari kamar kecil saja.

Omong-omong soal buang air kecil. O ya pernah saya memasuki Istana Negara. Seorang mengatakan kepada saya coba buang air kecil di Istana. Saya bilang saya belum butuh. Tetapi dia katakan kapan kau masuk, lihat dan buang hajat di istana. O ya saya pun melepas tetesan sampahanku di sebuah jamban kencing berdiri yang tinggi besar untuk ukuran saya.  Pengalaman ini saya bagikan kepada bapa saya yang dari desa itu. Ketika sempat naik airbus ke Bali saya usulkan untuk buang air. Jawaban persis seperti saya, “belum perlu”. Tetapi saya katakan kapan lagi bapa bisa buang hajat di pesawat terbang. Dan bapa mengikuti anjuranku. Diapun bercerita tentang ruang sempit dan kloset kering itu. Pengalaman juga. Lain kali pasti tidak kikuk cari kamar kecil di pesawat. Tetapi sayang tiket pesawat menjadi terlalu mahal untuk orang desa seperti bapa saya.  Dia hanya bisa bercerita dan tidak bisa mengalaminya lagi, karena terlampau tua untuk bepergian.

 

 


Responses

  1. sering ngalamin nich , tapi mikir lagi , kalo gugup n nervous bawaannya pasti salah
    jadi bawa nyantai aja
    toch semua manusia sama khan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: