Posted by: atakeo | May 6, 2008

Harap Lega dan Tak Jual Sepenggal Tanah

Hampir setiap hari sepsang manusia berusia lanjutnya ini bekerja. Mereka menyabit rumput dalam pagar halaman perusahaan kami. Mereka boleh masuk karena saya mengakui sebagai orang tua saya. Semua petugas keamanan membiarkan kedua masuk. Pertama kali membawa nota dari saya berupa secarik kertas bekas. Bunyinya biarkan Bapak dan Ibu menyabit rumput.  Didalam tembok pagar perusahaan kami ada tanah kosong sekitar 3000 meter persegi dan ditumbuhi rumput dan ilalang liar. Pasangan bapak Suryana dan Ibu Ati setiap hari mengarit rumput hingga kini.  Sekarang kedua psangan manula ini leluasa memasuki pekarangan kami. Sambil membawa dan  terkadang  minuman dalam botol plastik merekeka mengarit rumput dan mengisi dalam karung kemudian dibawa ke rumah mereka sekitar 200 meter dari lokasi kami.

Bapa Suryana orang Cirebon telah meninggalkan kampung halaman sejak belum dewasa. Dia telah melakukan berbagai pekerjaan kasar. Dan kini memiliki lahan sangat luas. Ada sawah dan ladang kering. Hasil buah rambutan sekitar rumahnya saja cukup untuk hidup setahun bahkan berlebihan. Hasil tanaman padi dari sawahnya berlebihan. Masih ada sejumlah lahan kosong tak tergarap. Ada tenak sapi beberapa ekor yang digembalakan sendiri dan menginap dikamar samping rumah bersebelahan dengan dapur. Dari berbagai hasil usahanya dia menanam modal pada seorang keturunan China untuk usaha jual beli mas. Dia memiliki rekening tabungan yang cukup banyak. Karena saya cukup dekat  dia memberitahukan simpanannya. Jumlah tidak sedikit. Sang Ibu yang berpakaian sangat sederhana mengalungkan leher dengan rantai dan pendan emas.

Mereka kaya seharusnya. Sekali setahun menanggapi wayang. Kalau ada wayang di rumahnya, diatetap pergi mengarit rumput seperti biasanya.  Aneh memang,. Dan betul aneh. Berbagai usulan dari mana-mana termasuk saya tidak pernah bisa mempengaruhinya. Dia terus merasa nyaman dengan semua keadaannya. Saya heran. Saya dekati. Dan Saya dengar.

Ada usulan jual tanah untuk haji saja. Ada yang mengusulkan jual tanah beli mobil. Satu kali keduanya meminta advis saya untuk memilih warna cet rumahnya. Dan saya mengusulkan kalau bisa perabot rumahnya diganti biar ada rasa nyman di ruang tidur atau ruang tamu. Karena saya tahu keduanya mampu membiayainya.

Tidak ada satupun saran diterima. Ini berhubungan dengan obsesi masa anak-anaknya. Dia adalah seorang yang terluka dan berlari dari kepedihan mencari penyembuhan. Ketika masih kecil dia diusir dan disia-siakan oleh sanak saudaranya. Dan dia bersumpah dan berseru biar kelak saya punya lahan lega. Dan kini ia memiliki tempat lega. Dia juga masih terus membeli. Tetapi kalau diusulkan untuk menjualnya dia akan mengatakan bahwa tak spenggal tanah kulepaskan. Mengapa saya jual sekarang saya sudah cukup. Tetapi sayang keduanya terus bertambah tua tanpa seorang keturunanpun mendampinginya.  Mereka tidak memiliki seorang anakpun. Mereka tetap sendiri di rumah yang tidak terlalu kecil berbagi dengan beberapa ekor sapi disamping sementara halaman rumah dipenuhi limbah pencernaan sapi, hasil aritan hari-hari di perusahaan kami.

Saya bukan ahli ilmu jiwa yang bisa menganalisa. Tetapi saya adalah tetangga. Mereka juga memberi warna khas ciptaan Allah.  Mereka menjadi mereka dan saya pasti bukan mereka. Ini toleransi.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: