Posted by: atakeo | May 9, 2008

Aku Harus Menjadi Diriku

Sudah agak lama saya bekerja sama orang Korea. Sejarahnya panjang saya bersama mereka. Saya juga terkadang heran mengapa saya tidak dapat bekerja bersama orang Amerika atau Eropa, yang sebetulnya saya lebih tahu adatnya. Karena masa sekolah saya terbiasa dengan orang-orang itu. Saya mengenal kata pertama bahasa Inggeris dari William Pope, orang Chicago. Dan saya belajar bahasa Jerman dari Kurt Bard orang Jerman. Guru matematika saya Anton Mohlman  orang Roterdam. Saya mendampingi Fusshoeler orang Jerman belajar bahasa Indonesia. Saya bahkan belajar ilmu bumi dari Donkers orang Belanda. Lalu saya terdampar dalam kegelapan sendiri di Jakarta yang benderang siang dan malam.

Pindah-pindah pekerjaan adalah biasa. Pindah-pindah ini lebih pada alasan saya mau menjadi diriku. Aku tidak menjadi besar karena perusahaan tempat saya berada. Terakhir dan lebih lama saya bersama orang Korea. Tetapi saya selalu bilang, jangan kau samakan aku dengan orang lain. Saya menyaksikan orang Korea suka menilai negatif pada orang sebangsa saya. Jangan pukul rata . Kalau saya diberikan kepercayaan saya tunjukkan tanggungjawab saya. Kalau anda ragu maka saya menjadi peragu dan tidak bekerja maksimal.

Orang Korea menilai kita kurang dedikasi kerja dan mereka juga sok saleh , dan meragukan kejujuran orang kita. Sebab para pembantu Korea saja pintar maenulis bon sendiri setelah membeli sayur. Sopir suka menulis bon bensin tidak sesui jumlah isian tangki. Ada benar ada tidaknya. Saya tahu tentang orang Korea. Orang Korea punya semangat kerja yang luar biasa. Bagi mereka semua harus bekerja. Bekerja dan bekerja. Pernah satu hari saya ikut anak Indonesia di kawan industri, kawasan berikat (bonded) di Changwon , Korea Selatan. Kami bekerja di satu perusahaan rakitan. Ada kekurangan satu orang. Dan saya ikut bekerja. Semua pekerja makan sama-sama dengan bosnya. Dan yang memasak makanan adalah isteri bos. Ketika kami akan pulang dia mengucapkan terima kasih dengan penuh hormat. Kerjanya waktu itu adalah membuka dop mesin sepeda motor dari China, diberikan tulisan Made In Korea dan dipasang sticker Pengawasan Mutu, kemudian dimasukkan dalam kemasan untuk dikirim entah ke dunia mana.

Selama berbulan-bulan di Korea Selatan, selain sehari itu saya tidak bekerja. Saya mencari cara sendiri untuk hidup. Saya membina relasi dengan beberapa pengusaha. Dan melihat saya bukan bermental pegawai, ada seorang katakan, saya tidak bisa bayar gajimu. Tetapi saya berikan kantorku untukmu berusaha. Saya lalu memakai semua fasilitas kantornya untuk usaha saya. Ternyata saya tidak sendirian. Seorang Amerika juga menggunakan kantornya untuk urusan sendiri. Dia maupun saya menjadi diri kami sendiri. Kami tidak diperintah tetapi kami memerintah diri dan mencari cara sendiri.

Selama di Korea, saya menghubungi orang dan membina relasi. Dan relasi saya terus berkembang. Untuk meningkatkan relasi saya juga bergabung dengan sebuah klub LEX CLUB, sebuah perkumpulan orang Korea yang keranjingan belajar bahasa asing. Mereka merasa senang dengan kehadiran saya. Dan saya merasa diterima apa adanya. Setiap akhir pekan saya mendapatkan home stay. Enak juga. Mereka malah main dulu-duluan. Dan saya diminta untuk hadir di kelas-kelas khusus mereka di beberpa kota. Saya menjadi diri saya orang Indonesia. Saya bertamasya dan menjadi diri sendiri. Mungkin itu saat-saat paling enak dalam hidup  dan  saya merasa menjadi diri sendiri tanpa beban.


Responses

  1. ka, saya mau dongg dikenalin sama orang koreanya … hha😀
    bruntung bgd bisa k korea🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: