Posted by: atakeo | May 14, 2008

Postpower Syndrom = Takut Mati

Seminggu ini saya bertemu dua orang yang berusia di atas enam puluh tahun. Saya anggap mereka sudah tua. Pertama saya bertemu seorang haji di daerah Warakas. Seorang perantau yang dari ukuran ekonomi dia sukses. Orang mengatakan ini dan dia sendiri mengatakan ketika saya untuk pertama kali bertamu di rumahnya. Ketika saya datang dirumah yang ditongkorongi beberapa mobil dan bergantung beberapa sangkar burung beo yang berteriak bersahutan begitu ada tamu .Setelahber assalam alaikum , bagaikan beo saya menyebut nama sendiri dari luar pagar. Dan itu tanda akrab kami sebagai yang lebih muda saya berteriak menyebut nama sendiri.

Saya masuk bertemu dengan seorang haji bersarungan. Dia berteriak keras minta pembantu datang untuk menyiapkan minuman. Kami berdua bertemu dan omong omong tentang banyak hal. Dan hari itu saya menjadi pendengar yang baik, mengomentari sedikit dan kembali saya mendengar lagi. Dia bercerita tentang sukses memiliki 7 buah rumah di daerah Warakas, dan bebrapa mobil dan berbagai kegiatan mencari uang.

Lain waktu saya bertemu orang yang lumayan populer, pejabat tinggi dan dekat dengan orang nomor satu negara kita. Dia sedang tidak berdaya karena kesehatan. Tetapi masih mengatakan segala sesuatu seperti tidak ada hambatan. Masih mengatakan punya kekuatan dan kuasa. Sama bapa yang satu ini dia minta saya bicara dan dia mengomentari. Saya agak memaksa dia untuk jadi pendengar. Saya mau mengatakan bahwa dunia berubah. Cara pandang juga berubah.

Kedua tokoh saya sebetulnya sama. Semua pembicaraan mereka bertema orang yang takut mati. Mereka takut mati semangatnya. Ketakuatannya ini dituangkan dalam bentuk pembicaraan penuh semangat tentang kisah sukses dan rencana besar yang sebetulnya bukan saatnya. Kelihatan mereka takut tidak ada lagi yang mau dengar. Takut bahwa kelak tidak ada yang menghargai pikiran dan sarannya.

Orang-orang seperti kedua tokoh saya ini menampilkan diri sebagai orang yang masih bisa dan kuat berbuat sesuatu. Mereka takut dianggap tidak berdaya. Mereka sesungguhnya takut mati itu sendiri. Atau saya pinjam istilah penyiar radio Asutralia hari ini mengomentari banyak yang tewas akbat badai, takut”beramatian”. Kata bermatian baru hari ini nyangkut di kuping saya. Bermatian merujuk pada kaidah bahasa menggunakan awalan ber dengan akhiran an seperti beguguran atau bergelimpangan. Lupakan semuanya yang berbau tata bahasa. kaedah mati. Tetapi hari ini kosakata saya tambah satu “bermatian”.

Takut mati bisa dikatakan takut bermatian ditimpa badai perubahan jaman.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: