Posted by: atakeo | June 25, 2008

Solo dan Batiknya

Tanggal 13 Juni 2008 saya untuk pertama kali menginjakkan kaki di Solo. Penduduk Pulau Jawa selalu mengatakan bahwa Jogya dan Solo itu Jawa. Pulang ke Jawa artinya balik ke Solo atau Jogya. Beberapa kali saya pernah ke Jogya. Mertua saya orang Jogya yang tidak punya rumah lagi di sana. Mereka hanya memiliki lahan kosong yang dihuni oleh orang lain. Karena isteri saya mempunyai hak warisan atas sepotong lahan, maka saya kecipratan warisan itu.

Saya mampir ke Solo karena tidak ada pilihan. Kereta Argo Lawu yang super cepat dan mewah juga untuk saat ini berhenti di stasiun kereta Solo Balapan. Argo Lawu lumayan cepat dan besih. Hanya restorasi dibandingkan dengan Kereta Seja tidak jauh berbeda. Saya sempat ke restorasi, karena tetangga kursi saya seorang brtubuh tinggi besar usia paruh baya mengalami sesak napas. Gejala serangan jantung. Saya menolong dan saya berusaha mengambilkan air panas ke gerbong dapur dan restoran yang tidak terurus. Hanya ada yang memakai tetapi tidak pernah dirawat.

Tiba di solo dinihari. Begitu kereta berhenti, penjemput kami melambaikan tangan sambil duduk di bangku. Mereka sudah tahu kami duduk di gerbong no. 5. Begitu keluar pintu bangunan stasiun ada banyak tawaran untuk menggunakan taksi atau kendaraan sewa. Pemandangan biasa dimana saja ad stasiun. Perasaan istemewa hanya karena saya sadar sekarang saya ada disebuah kota Solo. Saya ingat di kota ini ada kraton solo.  Teringat saya akan orang PAN Amin Rais. Saya sempat lewat disamping kraton, ketika berwisata ke pasar Klewer. Dan ketika saya akan kembali sempat lewat satu jalan ada Sekolah Muhammadiyah. Saya ingat akan Amin Rais yang saya tonton di TV lagi bersepeda ke sekolah itu.

Solo sangat terkenal akan bengawannya. Tetapi saya tidaksempat menikmatinya. Ketika berkunjung ke Pusat Grosir Solo ada yang istimewa. Hampir semua toko di lantai dua menawarkan aneka batik. Pasar Solo membaca situasi. Mereka tahu menawarkan obat demam batik saat ini. Variasi disain diciptakan untuk memenuhi selera pasar masa kini. Ada kebanggaan dan kesenangan baru saat ini dalam tata busana. Batik tiba-tiba mencuat kedepan. Batik menjadi bagian dari busana modis kaum remaja. Sebuah fenomena baru. Batik sebagai peninggalan budaya yang dikesampingkan tiba-tiba menjadi busana trendi.

Disepanjang jalan melalui tv kabel Kereta Api ada promosi tentang dorongan untuk memakai produk dalam negeri sebagai bukti bangsa mandiri. Batik kini digemari. Memakai busana batik berarti mencintai produk negeri sendiri. Membeli batik artinya mendukung ekonomi rakyat kecil. Karena batik kreasi budaya asli Indonesia. Semakin kita mengenakan busana batik, semakin memperjelas bahwa batik adalah peninggalan budaya Indonesia. Sebagaimana lagu asli Indonesia yang diakui Malaysia sebagai milik Malaysia, batik juga diklaim sebagai berasal dari Malaysia. Walau mereka mengatakan batik Melayu, tetapi mereka tetap mengatakan asal kata batik dari kata titik, yang adalah bahasa Melayu Indonesia.

Aku telah ke Solo dan aku melihat pusat pasar batik Solo. Dan secara kebetulan saya sempat berpapasan dengan puteri orang nomor satu Indonesia. Mamie puteri Soeharto yang berkulit wajah bersih sedang belanja batik disana. Banyak mata tertuju ke wanita Solo yang satu ini. Dan dengan itu saya jadi sempat bertemu dengan puteri  Solo sejati ditengah keramaian jejalan batik Solo.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: