Posted by: atakeo | September 3, 2008

Diatas Rata-Rata Air dan Korban

Semalam ada pertemuan sebanyak 11 oang bapak-bapak termasuk saya. Dari semua pembicaraan yang kami bahas ada satu cetusan yang menarik dari seorang tentara. Dia pensiunan Kolonel. Dia mengungkapkan bahwa menjadi seorang Katholik di tubuh ABRI sungguh menjadi salib. Kalau tidak memiliki kemampuan diatas rata rata air, maka tidak akan dihargai. Kalau mendapat anugerah kemampuan diatas rata rata air dia masih mengalami hambatan untuk misalnya bisa jadi Dandim ditempat yang baik. Penempatan yang berada di atas rata air ini pasti akan dilabuhkan di tempat yang jauh dan tenang dari hingar bingar kota. Dia akan menjadi petinggi militer meditasi. Dia ada di daerah yang sepi. Sepi semuanya.

Hidup dianggap berarti bila kita selalu berusaha untuk mencapai standar diatas rata-rata air. Saya jadi ingat akan pandangan yang mengatakan ada masyarakat horizontal dan vertikal. Kita tidak bisa maju bila kita selalu berusaha untuk sama dengan yang lain. Karena asal usul, karena lingkungan kita ingin semuanya biasa-biasa saja. Sama dengan yang lain. Secara horizontal kita sama. Seorang hanya bisa dianggap maju kalau dia melewati horison yang ada. Dia harus melejit lebih dari standar yang ada. Dia juga kalau perlu keluar dari kondisi dan lingkungan yang ada. Pada saat itu seorang menapak ke tangga yang lebih. Dan itulah tangga kemajuan. Dia manapak naik ke atas.

Saya tersentak dengan apa yang dikatakan teman diskusi saya. Iman telah mengkotakkan manusia di ruang sempit. Iman telah membedakan kemanusian seorang. Iman terlalu membedakan dan memilah. Pada akhirnya ada orang beriman yang mendiskriminasikan dan menindas. Ada yang menderita karena imannya.

Sikap seorang beriman yang baik adalah menerima semua akibat sebagai konsekwensi imannya. Atau kalau diberi bumbu teologis inilah pengorbanan. Korban adalah penderitaan yang diterima dengan pasrah. Dalam kepasrahan orang melihat penderitaan sebagai pengorbanan seorang untuk sebuah kebaikan dan tujuan.
Hanya bila kita mentrasformasikan penderitaan menjadi pengorbanan, manusia menikmati penderitaan sebagai layak panggul dan ringanlah panggulan itu. Karena sadar bahwa korban membuahkan rahmat dan kebahagiaan.


Responses

  1. Aku merinding.
    Karena aku sudah menerima konsekuensi atas sesuatu yang bahkan lebih rendah dari iman, hanya pandangan hidup saja.

    Lalu aku membayangkan bila konsekuensi atas iman sudah gilirannya datang…

    ->YOSU: Pandangan hidup adalah prinsip. Dan tidak semua orang sama prinsipnya. Konflik terjadi ketika seorang mulai mengenakan kaca mata kuda. Hanya lurus. Pinsipnya benar sendiri. Toleransi terjadi justru bila kita harus menoleh dan menghargai yang berbeda. Tanya diri sendiri, karena rumput yang begoyang tak memberikan sedikitpun omongan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: