Posted by: atakeo | September 28, 2008

Detingan Jam Menara Gereja Menyebalkan Anak Asrama

Saya pernah merasakan susah tidur. Anak-anak tamatan sekolah St. Yoh Berkhmans Mataloko pasti tahu. Tempat tidur besi yang pegas. Perlengkapan tempat tidur  tikar pandan, bantal dengan selimut tipis bergaris. Saya termasuk orang yang diasramakan setelah tamat  Sekolah Dasar di kampung halamanku. Mataloko tempat yang sejuk dan terkadang amat dingin.  Sebelum tidur ada doa malam bersama, kemudian sikat gigi dan cuci kaki dibawah pancuran pipa panjang dengan lobang kecil yang memancarkan air deras sebesar pinsil. Ada yang berusaha lama-lama ngobrol dan menunggu giliran buang air. Tetapi awas nanti ada pengawas. Frater muda yang baru selesaikan 2 tahun studi filsafat praktek hidup pastoral dengan mengajar atau kepala asrama.  Dan salah satu tugas mengawasi anak asrama termasuk urusan tidur.

Tidur terkadang tidak mudah. Kedinginan malam di Mataloko membuat kita sering buang air kecil; Saya pernah sampai tidak bisa tidur. Yang paling menyebalkan dan menyeramkan juga adalah bunyi jam dinding di depan rumah makan para guru dan juga jam besar dari menara geraja Mataloko. Setiap seperempat jam berbunyi. Kesunyian dan kegelapan malam dirasa secara sadar jam demi jam. Sebal betul. Berusaha menutup muka dengan ujung selimut tetap tidak membantu. Kalau membiarkan mata terbuka akan terlihat di kejauhan ada lentera minyak tanah. Cahayanya yang remang menyinari begitu banyak orang terbaring nyenyak. Ada rasa takut dan penuh ketidaknyamanan. Besok pagi harus bangun pagi. Kalau tidak akan ditendang tempat tidurnya oleh frater. Kami  harus segera sikat gigi, cuci muka atau mandi kemudian ibadah pagi.  Itulah rutinitas kami sedari pagi, sikat gigi, mandi atau cuci muka kemudian ibadah pagi, srapan pagi, sekolah, tidur siang, bangun oleh raga, setudi, makan malam, doa malam dan tidur.

Itu perputaran bertahun-tahun. Perlu kesiapan mental  untuk tunduk pada tatatertib umum. Ada yang malas. Caranya gampang. Berpura-pura sakit. Makanan akan diantar ke tempat tidur. Itu juga merupakan siksaan sendiri bagi yang sesungguhnya tidak sakit. Harus makan diruang tidur sambil memandang ruang yang begitu luas behamparan tempat tidur dan selimut dimana-mana. Tetapi ada yang mencari alasan untuk menyelesaikan bacaan yang seru. Untung masa itu belum ada tulisan porno. Kalau ada pasti akan kena sensor ketat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: