Posted by: atakeo | October 3, 2008

Terorist Tak Pernah Ramah

Sholat Ied berjalan khusuk di penjara. Sebagai orang yang berbeda agama, saya selalu tertarik melihat kekhususkan umat Islam bila beribadah.  Raga  dan busana bersih mereka beribadah, seluruh sikap diarahkan untuk menghadap sang Khalik. Kejasmanian manusia total menjadi sangat rohani lebur dalam sikap dan doa. Rasa ketergantungannya dinyatakan dalam sujud kepada yang Ilahi. Iman akan Tuhannya tidak berhenti disitu. Iman harus diwartakan. Dalam kekhususkan insan penuh rahmat mewartakan damai kepada sekitarnya. Menoleh ke kanan dan kiri mengucapkan Salam.  Saya bangga  menjadi bagian dari umat beriman yang saleh.

Di tengah sukacita wajah penuh damai orang saling bersalaman, ada yang terharu dan menitikkan air mata. Sorot lampu televisi menayangkan wajah anak-anak manusia pemberani. Mereka orang-orang yang siap mati. Mereka merasa jadi orang paling sahid bila ditembak mati. Karena mereka merasa memperjuangkan keislamannya. Kehusukan sholat terasa tidak mewarnai sikapnya. Dia tetap meledak-ledak berucap di depan kamera. Sampai sekarang masih tersisa tanya dalam sanubari saya. Adakah damai dalam warta imannya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: