Posted by: atakeo | October 7, 2008

Citra Pelayanan Publik Indonesia Buruk Abadi

SIM A saya sudah 2 tahun kedaluwarsa. Saya terus saja dengan pede mengemudi tanpa ijin. Pernah dua kali tertangkap tangan karena ada razia umum. Dan damai saja dengan lembaran rupiah. Kalau memang mudah mengapa repot amat. Karena kantor kami masih libur lebaran, saya mau urus sendiri SIM A. Di Ditlantas Kebon Nanas, Jakarta Timur, di area parkir saya dibuntut oleh bebrapa ibu. “Mau SIM Baru atau Perpanjang mas? Langsung foto” demikian kata seorang ibu yang terus menempel disamping kiri. Saya terus ngeloyor tetapi sang ibu berteriak kepada temannya Saleh yang berdiri tidak jauh sambil berkata :”Itu dia”.Saleh yang sedang berdiri dengan rekan lain yang nampaknya seprofesi, memberondong saya dengan pertanyaan dan tawaran sejenis. Saya masuk ke gedung dan harus keluar dulu ke jalan raya. Orang Indonesia memang harus membuat sulit. Kalau memang bisa bikin sulit mengapa harus mudah. Sebuah prinsip yang selalu dipegang teguh. Gedung yang sudah didisain untuk memudahkan orang masuk dipagar secara semrawut memberi penampilan tak sedap. Saya ke depan gedung. Di depan gedung persis dipinggir jalan raya terparkir sebuah mobil milik seorang pensiunan polisi. Karena pemiliknya berdiri disamping. Dalam balutan baju hijau kekuningan berlambang polisi di dada orang itu berbuat sama seperti saleh dan para ibu di are parkir. Ngotot saya terus ke dalam ruangan. Tetapi di samping kiri dalam kantor ada petugas yang menanyakan masalah saya. Karena telah 2 tahun kedaluwarsa maka saya disarankan ke Kalideres. Dengan bayangan kemacetan jalan Daan Mogot saya memutuskan pulang ke rumah dengan kesal. Dan sayapun terus mengemudi tanpa ijin. Berlenggang terus dengan pede.

Hari berikutnya, kemarin saya ke Imigrasi. Ingin perpanjangan paspor untuk ketiga kalinya, Berarti saya telah memiliki tiga paspor sebelumnya termasuk satu yang hilang. Urusan paspor hilang bukan main-main. Ini urusan serius. Lapor polisi malam hari karena bukan hanya passpor saya tapi termasuk 3 passpor rekan Korea saya yang ada dalam tas saya, yang raib dari mobil. Di polisi memang ada sedikit interogasi. Tetapi saya dengan mudah dapat surat keterangan kehilangan. Maklum ada prinsip “do it for duit”.

Mengurus tiga passpor Korea mudah seperti mengetik surat di kantor sendiri. Saya datang ke kedutaan Korea, dalam waktu kurang dari satu jam sudah dapat buku kecil pengganti Paspor. Dan terus mengurus Exit Permit karena memang mau berangkat. Tetapi yang sulit adalah orang Indonesia yang berkulit gelap seperti saya. Saya melewati penyidik bagaikan penjahat kriminal. Saya dipersulit dan melewati penyidikan dan lagui angker orang imigrasi. Saya ditakuti dan dikatakan bisa kerja sama sama orang China yang mengincar tinggal di Indonesia. Waktu itu saya bengong. Kini saya sadar juga Indonesiaku ini kaya raya. Datang orang orang China miskin jual piring melamin di kaki lima. Piring-piring itu katanya juga beracun karena ada formalin (?). Dan kini melamin, zat macam apa saya tidak tahu, tapi katanya mencemari susu dari negeri China. Nekat betul orang China. Kalang kabut seantero jagat dibikin China.

Kali ini saya perpanjang passpor. Supaya tidak bikin repot jangan bilang bekerja. Saya selalu bilang wiraswasta. Jadi tidak usah repot dengan surat sponsor segala. Di gedung baru Imigrasi Cipinang sejak naik tangga beberapa lelaki menawarkan jasa. Dalam ruang tunggu yang sumpek itu kursi-kursi dipenuhi para ibu yang juga agen calo didalangi petugas imigrasi dalam kantor. Begitu banyak orang beridiri di depan loketi tidak dilayani. Dari tiga lobang sebesar kelereng terlihat jelas beberapa kali pegawai imigrasi menyerahkan dokumen baru. Sang petugas loket segera meregistrasi sambil tangan tangkas menarik lembaran biru Rp. 50.000 beberapa kali. Kesal. Melihat sikap saya petugas loket memberikan kupon tanda terima dan mengatakan silahkan datang lagi hari Jumat.

Saya meluncur ke Kali Deres. Kali ini nasib baik berpihak padaku di perjalanan. Karena masih suasana liburan jadi tidak macet. Masuki area Ditlantas dari pengeras suara memberi pengarahan pada para pengguna parking area dan informasi seputar pengurusan SIM. Setelah parkir saya ke tempat pembuatan SIM. Didepan pintu masuk saya diusulkan harus memiliki Surat Kesehatan berlokasi di sebuah gedung kecil. Ada warung nasi, ada penjualan kartu telepon dan ada satu pojok periksa kesehatan. Darurat. Pada jendela loket ada tertulis jam kerja. Senin – Kamis jam 7.30 – Jam 12.00 Hari Jumat 7.30 – 11.00 Dan satu papan kecil tergantung ada tulisan Ro, 10,000. Maksudnya biaya periksa Rp. 10.000,-

Kali ini loket sudah tutup. Seorang ibu dengan baju kuning transparan bercelana jeans yang digulung acakan bersandal hijau berteriak,” itu bisa sama pak Imam”. Imam berbadan tegap tinggi plontos segara menawarkan jasa dan mematok harga empat setengah (Rp. 450.000). Karena saya menolak, dia katakan ya sudah besok pagi saja. Saya langsung mengambil tempat duduk disamping ruang periksa. Mengamati. Imam terus saja menerima tamu di meja makan. Dan mereka mereka dipanggil ke balik warung es teler 197 dari samping lemari es dia menulis beberapa surat keterangan Kesehatan. Beberapa orang setelah membayar keluar dari situ dengan surat keterangan di tangan.

Kecewa lagi. Saya berusaha menanyakan pak Imam. Dia menanggapi sikap saya, ini biasa. Disemua tempat umum pasti ada calonya. Seperti di imigrasi para calo itu adalah wayang kulit dengan dalangnya petugas pelayan publik sendiri. Imam memandu orang-orang yang telah terima surat keterangan untuk menghadapi petugasnya dalam gedung SIM. Dari balik warung ayam presto dan es teler dia berkomunikasi dengan petugas dalam kantor. Imam juga wayang. Dalangnya ada di dalam. Pada saat yang sama Imam menjadi dalang buat pengguna jasa dan petugas.

Kecewa. Sebal. Saya mendatangi petugas polisi di pos berada sejajar dengan warung dan ruang periksa. Ternyata orang yang saya temui bernama Imam juga. Saya melaporkan semua itu dengan kecewa. Saya disuguhkan segelas air putih tetapi saya akhirnya tinggalkan ruangan dalam kekecewaan yang lebih dalam. Karena nampaknya mereka memahami semuanya. CITRA PELAYANAN PUBLIK INDONESIA BURUK ABADI. Ketulusan dan kejujuran akan selalu tertumbuk tembok keboborokan dan kemunafikan mental korup.

Aku tetap cinta INDONESIA.


Responses

  1. urusan dengan polisi?berarti siap-siap keluar duit!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: