Posted by: atakeo | October 9, 2008

Macet Itu Maju

Hari raya lebaran jalan raya sepi. Saya dan isteri melaju dengan aman dan nyaman melewati jalan raya Bogor yang biasa sesak padat. Yang bikin panik dan pusing adalah kendaraan roda dua. Sepeda motor yang tidak pernah mematuhi aturan lalulintas. Sepeda motor boleh memutar, memotong jalan melaju pelan atau kencang sesukanya. O ya saya pernah harus mengeluarkan uang Rp. 5.000.000, (lima juta rupiah). Ketika akan menikung ke kanan di depan taman Mini dari TAMINI Mall ke Taman Mini,  sebuah sepeda motor melaju super kencang. Dan terjadilah tabrakan kendaraan saya. Sang pengendara terkapar karena kaki patah. Mobil saya ditahan polisi. Saya tenang karena merasa tidak bersalah. Tetapi karena kata bapak polisi kalau ada tabrakan becak dan motor maka motor disalahkan. Demikian mobil dan sepeda motor , yang kecil dibenarkan. Dan jadilah saya ikut dalam kesalahannya. Karena memang dia salah. Tetapi melihat biaya rumah sakit lebih dari sepuluh juta, saya jadi ikut patungan. Kemanusiaan kata orang yang tahu adat.  Kata hati penuh ego sbeda. Hatiku  dongkol juga.

Hari lebaran kali ini karena orang pada Sholat Ied kami menuju rumah saudara di Bekasi. Jalan sepi. Apalagi jalan tol lingkar luar sangat sepi. Kami melaju kencang, lebih cepat dari biasa. Saya coba menekan gas melebih 100 km per jam.

Di jalan raya biasa isteri saya yang menikmati kenyamanan jalan berkata, coba begini terus. pasti enak. Saya juga ikut mengiayakan. Tetapi saya katakan enakan ramai. Ramai itu identik dengan macet. Karena macet itu sama dengan maju. Kemacetan menjadi indikasi besarnya jumlah kendaraan. Banyaknya kenndaraan menggambarkan naiknya jumlah kepemilikan kendaraan. Berarti meningkatnya jumlah orang yang punya uang untuk beli kendaraan, yang tentunya tidak murah. Urusan kendaraan murah, saya masih ingat sepeda motor pertama saya beli dengan harga Rp. 125.000,- sebuah sepeda Yamaha Bebek. Saya beli ini hanya untuk bisa nampil dan bonceng pacar, yang sekarang terus melengket gaya perangko. Gaji saya masih Rp. 60.000,-/bulan dan saya mendapat pinjaman maksimal 3 bulan gaji. Saya bisa beli motor cukup dengan kerja dua bulan. Rupiah masih punya nilai. Tetapi kini rupiah terus melemah sejak Pak Harto, jenderal besar itu tunduk membungkuk menandatangani pinjaman dana talangan IMF. Betapapun harga sepeda motor sekarang jauh lebih mahal, tetapi banyak orang yang memilikinya. Itu artinya secara ekonomi  kita maju. Jalan raya akhirnya makin macet. Tetnyata kemacetan identik dengan kemajuan. Tetapi kemunduran dalam tertib berlalu lintas membuat kita lama berlelah  di kemacetan panjang jalan raya.

Aku tetap cinta Indonesia.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: