Posted by: atakeo | October 20, 2008

Aku Terlalu Primordialis

Umi gelandangan itu ternyata membawa lari Hapeku dan kacamata baca isteri saya.Isteriku mengatakan, makanya jangan sok sukuis. jangan kira semua orang Flores atau Timor itu baik. Jangan pernah lagi bawa-bawa orang dari jalanan masuk rumah.

Umi sebuah nama yang tidak umum untuk orang Timor, yang sebagian besar agama Kristen. Umi gadis berwajah arus bawah ini. Kulitnya gelap, rambut keriting dibantu lima jepitan untukmerapihkan rambut krual di  kepalanya yang segede kepalan tangan. Umi saya jumpa di pinggir jalan raya berjalan sendirian dengan penuh cemas. Saya tergerak untuk menanyakankan anak itu. Dan akhirnya gadis dengan pertumbuhan tidak luarbiasa terlalu kecil untuk usia 14 tahun saya ajak untuk tinggal di rumah kami. Logat berbahasa  meyakinkan saya dia pasti orang Timor. Dan dia membuat saya tambah percaya kalau dia anak Timor NTT melalui cerita polosnya. Saya pikir dia orang Timor dan saya orang Flores, paling tidak ada kesamaan kulit gelap dan rambut kriting asli. Karena memang ibu-ibu orang Indonesia Timur sangat paham akan mahalnya listrik lebih baik mengeriting rambut anaknya sejak dalam kandungan.  Saya tiba-tiba merasa satu suku bangsa dan sekampung halaman dengan gadis kumal itu. Karena dia mengingatkan saya wajah masa laluku. Seperti orang Indonesia kalau lagi di jalan macet di Jakarta saling duluan dan kalau perlu marah sambil meludahi, tapi kalau ada di rantau di negeri orang rasa sudah seperti saudara.Saya juga merasa saudara dengan Umi.

Rasa iba bisa menyesatkan. Umi yang saya temukan dan bawa ke rumah membenarkan itu. Tanda terima kasih yang dia berikan kepada saya dan isteri menyedihkan. Isteri saya membelikan selusin celana dalam dan beberapa celana pendek serta baju untuk ganti. Dia sempat tidur nyenyak semalam sampai jam 10 pagi diatas kasur dalam satu kamar sendiri. Kami anjurkan dia mandi bersih dan mengajarkan dia bekerja sekedar menyapu lantai. Dia ternyata tidak pandai menyapu, Sapu ijuk di dorong kedepan. Dia merasa lantai keramik sudah terlalu kilat untuk disapu lagi. Kalau disuruh makan, dia akan datangi saya atau isteri sambil mengucapakan :’saya sudah makan”, maksudnya saya mau makan. Tutur katanya masih gaya anak Timor.

Umi akhirnya pergi tidak tahu rimbanya. Kami sekeluarga yakin anak ini diculik dan telah dicuci otaknya untuk menjadi mesin uang bagi mafia perdagangan anak manusia. Mereka sesungguhnya memperbudak manusia di jaman supra modern ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: