Posted by: atakeo | November 10, 2008

TERORIST DAN KEMARTIRAN SEBUAH PARADIGMA BARU

Saya begitu kagum akan keteguhan hati para terorist dan terpidana mati Amrozi dan rekan-rekannya. Iman menjadi benteng yang begitu kuat sehingga tidak ada yang bisa menggoyahkan mereka. Mereka siap menatap kematian dengan sadar. Karena mereka bersikukuh bahwa perbuatan yang dikutuk begitu banyak orang di seantero jagat sudah sesuai dengan kayakinannya dan akan menghadirkan surga bagi mereka.

Saya menyaksikan TV ONe secara on line menyajikan berita jam-jam dan menit-menit mendebarkan dimana kehidupan manusia ciptaan Tuhan akan berkahir di ujung senapan regu tembak jitu. TV One secara seimbang menyajikan akibat dari ledakan dahsyat bom di tempat hiburan Legian Bali tahun 2002. Sebuah pemandangan yang memilukan, mengiris setiap hati yang berperikemanusiaan. Terkadang di layar televisi menampilkan sekilas wajah para pelaku yang tersenyum dan menampilkan sorotan mata menantang. Berulang kali disiarkan pamandangan itu. Para penderita dengan cacat permanen, ada anggota keluarga yang berwajah sendu memperlihatkan wajah orang dikasihi, yang terbunuh oleh serpihan bom maut itu. Televisi menyajikan semuanya secara seimbang. Racikan menu siaran disajikan membiarkan kita menikmati dan menilainya.

Pernyataan kesyahidan narapidana tereksekusi oleh keluarga, entusiasme masyarakat menerima jenasah membenamkan saya dalam sebuah kolam pertanyaan tanpa jawab. Masuk surga karena orang melakukan segala sesuatu sesuai dengan hati nurani dan iman kepercayaan termasuk melenyapkan hak hidup sesama. Benar dan sahkah itu? Ada 202 orang meninggal dan 315 orang cacat. Sang pelaku memanggil nama Allah dan menebar senyum dan tawa. Bagaimana kita semua menafsirkannya. Saya teringat seorang yang begitu susah dan telah bersujud kepada Allah, tetapi dia tetap menderita. Yang membuat saya tidak pernah lupa, dia mengatakan apakah dia telah memilih Allah yang salah.

Semua orang beriman percaya bahwa Tuhan itu ada. Pertanyaanku apakah Allahku dan Allah para pelaku bom Bali berbeda? Kalau memang berbeda lalu apakah aku atau dia yang salah memilih Allah? Sebuah permenungan  dalam kolam tanya tak terjawab!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: