Posted by: atakeo | February 13, 2009

CATATAN PERJALANAN

Ini  bukan sekedar mencari makan. Terucap nyaring tak tahu berkata kepada siapa atau roh mana malam itu.  Ini kata-kataku dalam sebuah kesunyian malam menyetir mobil avanza hitam ketika saya melewati daerah Sumbawa Besar. Saya kemudian ternyata tersesat mengambil jalan ke kanan dan terus meamasuki jalan yang semakin sepi dan sempit menuju wilayah hutan lindung. Saya tersesat.

Perjalanan darat dari Jakarta ke Flores ternyata tidak mudah. Perjalan hari pertama diawali dengan mengisi bahan bakar penuh di pompa bensin terdekatku sebelum memasuki tol. Penggantian olie saya abaikan sampai di salah satu kota untuk mengaso. Di daerah Rembang saya menginap malam itu. Dan rasa lelah terasa. Kaki kanan pegal karena saya kurang mendapat pasokan air minum. Jam 3 dini hari saya memaulai lagi perjalanan dan menginap di Situbondo. Kali ini saya hampir tidak bisa turun dari mobil. Saya mengklakson sampai reception datang dan mengarahkan saya ke kamar. Saya memaksa turun dengan rasa pegal di kaki kanan bertambah. Saya terus tidur dan terngiang di kepala silahkan tekan bagian yang sakit . Saya menekan bagian kaki yang sakit, saya berkeringat dan rasa pegal hilang. Saya mandi. Dan dini hari jam 2 saya melanjutkan perjalanan. Antara Situbondo Banyuwangi saya melewati jalan penuh hutan sekitar 27 km. Ada rasa tak nyaman tetapi saya meneruskan perjalanan.

Hari Kedua saya mencapai Banyuwangi. Polisi ternyata dimana saja akan selalu berulah. Di gerbang masuk pelabuhan, tempat mengambil tiket masuk , kendaraan lewat gerbang kemudian polisi melakukan pemeriksaan. Setalah pemeriksaan pengemudi turun dari kendaraan menuju pintu ticket untuk beli ticket.  Mengapa pos pemeriksaan polisi tidak berada sebelum pintu ticket? Saya menggerutu tak ada yang hirau. Malam itu berada di atas kapal penyeberangan menuju Bali. Saya tidur dalam mobil.

Hari Ketiga pagi saya sudah ada di Pulau Bali dan meneruskan perjalanan menyeberang  Ke Lombok. Sampai Di Lombok sore hari dan agak malam. Saya meneruskan perjalanan dan mencari makan malam. Sebuah restoran China dengan lampu berkepal kelip ada di kanan jalan. Saya menikmati santapan paling enak selama perjalanan. Sup asparagus dan daging bebek empuk dan paling nikmati yang pernah saya santap. Tetapi porsinya terlalu besar untuk dinikmati satu orang. Saya memuji pemiliknya dan ketika saya disodrokan bonnya ternyata Rp. 100.000,- Saya diam dan membayar selajutnya meneruskan perjalanan. Dengan  beberapa kali tanya saya sampai pelabuhan di penyeberangan Lombok Timur menuju Sumbawa.  Perjalan ferry tidak lama dan sampai di Sumbawa. Sepanjang malam saya meneruskan perjalanan sampai pagi hari dan agak siang saya sampai di Bima.

Hari Keempat di Sumbawa setelah mengalami tersesat di Sumbawa Besar. Saya mencari hotel dan menginap beberapa jam di hotel kemudian meneruskan perjalanan ke Sape. Di Sape tidak mendapat giliran naik ferry, karena ada banyak mobil angkutan menumpuk akibat salah satu ferry rusak. Kembali ke Bima terlalu jauh. Mencari hotel di Sape. Sayang kamarnya kotor dan bernyamuk, maklum semuanya berada diatas rawa. Saya memutuskan menghabiskan malam dalam kendaraan di mkompa bensin.

Hari Kelima, padi dengan penuh perjuangan saya mendapat giliran untuk naik. Saya menjual sakit ayah untuk mendapat prioritas. Dan sore sudah tiba di daratan Labuhan Bajo, Flores. Tanpa banyak membuang waktu saya meneruskan perjalanan sepanjang malam. Perjalanan Labuhan Bajo Ruteng merupakan perjalanan yang paling melelahkan. Banyak tanjakan dan tikungan yang harus di lewati. Jam 10 malam saya tiba di Ruteng dan menacari mencari makan malam di sana. Dan selanjutnya meneruskan perjalanan.

Hari Keenam saya sudah berada diWatujaji,  Bajawa dan meneruskan perjalanan sampai di kampung halaman. Saya mandi di salah satu pompa bensin milik biara SVD di Turekisa, Mangulewa. Berjanjian dengan suadara di empat itu. Kampung  halaman masih jauh, tetapi apa artinya berhari-hari yang telah lewat. Bajawa, Mataloko Boawae, Raja dan terus menuju Maunori serta ke desa kami.  Berhenti sebentar di Mataloko mengambil foto sekedar bernostalgia  tujuh setengah tahun bersekolah di sini.

Hari Ketujuh saya tiba di muka gubuk orang tuaku setelah melewati malam di tempat almarhum kakek. Saya harus membakar lilin dan berdoa tanda hormat pada leluhurku.Mobil diparkir dijalan besar, di Pau Ijo kami harus berjalan kaki dibawah rintik hujan ke rumah kakek di Boamau. Karena lebih dari 30 tahun saya tidak pernah ke kampung ini, adik bungsu bapak menyembelih seekor babi dan makan bersama bapa-bapa sekampung. Kanggo a’o atau merangkul kembali seorang yang telah lama meninggalkan kampung. Dan dari sana saya mengawali perjalanan hidup baru saya di desa.  Terima kasih.


Responses

  1. kisah-kisah menarik. Salut untuk anda yang rajin merefleksikan hidupmu. Kata-kata terucap akan lenyap – kata-kata terulis akan abadi—
    salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: