Posted by: atakeo | June 14, 2009

OMNI INTERNATIONAL DAN KEGAGALAN ADVOKASI

Omni International sebuah nama besar untuk sebuah rumah sakit baru lahir di sebuah perkampungan modern di wilayah Bumi Serpong Damai. Siapa yang mengawali sulutan api, yang kian hari terus membara itu? Dan siapakah yang pertama tidak sabar ketika jenggotnya kepanasan? Kasus Prita seorang wanita pekerja dan ibu rumah tangga, yang baru berkenalan dengan dunia maya telah meluluh lantakan kebesaran nama OMNI (Semua) INTTERNATIONAL (Mendunia). Direksi rumah sakit Omni International benar tidak mampu meredam api yang terlanjut membesar.

Semua media publikasi membidik sensasi Prita. Seorang perempuan berjilbab sahaja telah membuka busuk dibalik kebesaran bukan karena kesalahan Prita. Kesalahan saya kira terletak pada sisi manusia yang merasa luar biasa  bernaung dibawah keteduhan dan kenyaman payung bernama besar OMNI INTERNATIONAL. Publikasi pada dasarnya perlu. Seorang pesohor atau pejabat terutama setingkat menteri akan konyol mati tanpa publikasi. Mereka membutuhkan tempat pemasaran opini. Pedang bermata dua dari publikasi meminta kewaspadaan ekstra bagi yang ingin menggunakannya. Pedang pers memang lebih tajam dari senjata mana saja. Dia bisa memotong tetapi bisa melukai yang menggunakannya, bahkan membunuh diri.

Omni International yang diwakili oleh kuasa hukumnya nampak pada awal mau menunjukkan mereka orang yang memahami hukum. Mereka hanya ingin memperlihatkan kepandaiannya saja. Mereka lupa bahwa masalah Prita, seorang pasien membutuhkan penyelesaian dengan sentuhan hati kamnusiaan. Pada saat orang hanya mengandalkan otak semata, hati terkadang bisu membatu. Inilah awal malapetaka bagi sebuah masalah. Kalau saja pihak rumah sakit, dokter, pimpinan rumah sakit melalui kuasa hukumnya tidak menunjukkan keakuannya persoalan Prita menjadi sederhana. Prita sebenarnya hanya ingin didengar. Mengapa direksi rumah sakit tidak menjadi pendengar yang baik untuk mengoreksi dirinya. Pendengar yang baik adalah seorang yang sabar, menunggu kapan perlu bicara dan berucap seperlunya.

Kini kasus Prita terus saja mencoreng wajah banyak orang dengan arang akibat kehilangan kesabaran dan mendahulukan hati kemanusiaan. Saya tidak tahu siapa yang memulai ide melaporkan ke polisi. Dan siapa pula yang merasa hebat mendekati para jaksa. Kata mendekati sedikit dikedepankan karena pada kasus Prita, yang menonjol adalah ide, gagasan atau pikiran tetapi bukan nurani.  Saya melihatnya sebagai kegagalan advokasi hukum dan kehumasan rumah sakit OMNI INTERNATIONAL. Mereka menggunakan pedang bermata dua dan mereka telah ingin melukai Prita namun lupa sisi tajam yang lain memotong nadinya sendiri.  Luka lebih dalam dan lebih pedih ada pada sisi pemakai pedang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: