Posted by: atakeo | May 11, 2008

Nasi Bakar

Saya melintasi sebuah jalan desa di daerah Cibinong. Dan ada resturant bamboo cukup menarik. Ada tulisan yang paling menarik saya adalah NASI BAKAR. Jagung bakar dan ubi bakar sangat sudah umum. Tetapi nasi bakar merupakan hal baru, menurut saya.  Karena sudah saat makan siang, saya mampir. Rasa ingin tahu tentang nasi bakar sangat besar. Restaurant yang bisa memuat banyak orang itu hanya diisi satu perempuan menggunakan kaus tangan pengendara sepeda motor. Dia duduk menunggu. Ternyata dia menunggu pesanannya dan ingin makan di rumah. Saya memesan nasi bakar.

Sambil menikmati jus avocado, setengah ngantuk saya tunggu nasi bakar, menu utama saya. Gadis Indramayu lumayan ayu melayani di warung itu. Setelah agak lama nasi bakar itu datang. Diatas piring ada satu bungkus nasi ditaruh dalam piring. Daun pisang layu, panas dan agak hangus dipinggirnya. Dua potong lidi sepanjang 5 cm dipakai untuk ikatan bungkusan. Saya bertanya menegaskan pada gadis itu. Ini nasi bakar? Dia menjawab ya. Saya buka tusukan lidi dan didapat nasi berwarna coklat kecap dan beraroma seperti nasi tim china. Didalamnya terdapat beberapa potong daging ayam seukuran jari. Jari orang kecil. Karena ini prinsip ekonomis, kasih kecil tarikan besar.

Ketika ingin menikmati saya panggil dulu sang pelayan. Saya menanyakan proses bakar membakar. Ternyata nasi digoreng kemudian dibungkus daun selanjutnya dihangatkan saja diatas penggorengan tanpa minyak. Itulah nasi bakar yang saya nikmati. Rasa nasi tim berkemas bakar. Soal rasa tidak istimewa untuk lidah orang biasa seperti saya. Namun urusan selera tak dapat diperdebatkan.


Responses

  1. Isue kesehatan mungkin tidak jadi inspirasi dari ide ini, bahwa yang dibakar pasti lebih sehat daripada digoreng. Namun yang tertangkap mungkin ide “nyeleneh”nya…nasi kok ya dibakar…Buat saya ada 2 hal yang menarik, yaitu bikin penasaran untuk menyantap dan juga hemat karena tidak perlu minyak goreng…Btw, udah pernah makan Nasi Krikil belum?

  2. Sego kucing atau nasi kucing, saya pernah dengar. Tetapi nasi krikil atau nasi batu belum pernah. Nasi bakar pasti beda dengan ubi bakar. Dan berkaitan dengan bakar ada “bakar batu”. Itu budaya teman kita di Papua sana. Maaf juga sama teman saya yang lain. Batunya tidak dimakan seperti nasi bakar atau ubi bakar. Batunya tidak untuk dimakan tetapi bisa dibawa pulang ke Jawa sebagai kenangan, lantaran ada aroma dagingnya. Maaf bagi sobat yang MUSLIM, lupakan saja bakar batu kalau bukan daging rusa atau kambing, yang disembelih. Bisa teriak HARAM HARAM…. tetapi kesedapan masakan melalui bakar batu luarbiasa….sungguh luar biasa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: